Uniair Segera Kapalkan Fasilitas PLB e-commerce Pertama

Uniair Segera Kapalkan Fasilitas PLB e-commerce Pertama
Sesi foto bersama setelah penandatanganan MoU PLB E-Commerce dengan para pelaku industri dan usaha kecil menengah pada Senin (9/12). Tampak Presdir Uniair Indotama Cargo, Lisa Juliawati (dua dari kiri) bersama sejumlah asosiasi bidang perdagangan, disaksikan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto. ( Foto: istimewa )
Fajar Widhiyanto / FW Rabu, 11 Desember 2019 | 22:44 WIB

Perusahaan pengelola PLB e-commerce pertama di Indonesia, PT Uniair Indotama Cargo (UIC) akan menggelar pengapalan ekpsor pertama produk Industri dan Usaha Kecil Menengah yang menggunakan fasilitas PLB e-commerce pada akhir Desember tahun ini.

Disampaikan Presiden Direktur (Presdir) UIC Lisa Juliawati, pertengahan bulan ini produk-produk milik IKM dan UKM yang siap ekspor akan mulai masuk ke gudang PLB e-commerce di kawasan berikat Marunda Centre, Jakarta Utara.

“Setelah itu kami akan tutup kontainer, dan rencananya kapal akan segera berangkat ke Tiongkok. Setibanya barang-barang tersebut di Tiongkok, maka produk-produk tersebut akan dimasukkan ke gudang PLB e-commerce di sana, sambil mitra dari UIC di sana meng upload produk-produk tersebut, untuk dipasarkan baik di Tiongkok maupun di luar Tiongkok sebagai bagian dari ekspansi pasar,” ujarnya dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi (11/12).

Tujuan ekspor pertama adalah Tiongkok, dan berikutnya dalam katalog yang ditawarkan, ekspor juga bisa ditujukan ke sejumlah negara lain seperti Singapura, Malaysia, hingga Rusia, dan Amerika Serikat. Tiongkok menjadi pililhan pertama sebagai tujuan ekspor, karena menurut Lisa negara Tirai Bambu tersebut memiliki pasar yang besar dalam hal populasi, “Selain itu kami mengharapkan mereka juga tertarik membeli produk-produk IKM Indonesia yang dikenal spesifik dan memiliki daya saing cukup kuat,” kata Lisa.

Untuk dapat masuk ke pasar ekspor secara online terkait tes pasar, Lisa memberikan sejumlah tips termasuk kemasan produk yang bagus, memenuhi standar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) bagi produk pangan dan produk pangan UMKM, dan harus memiliki nomor Produk Industri Rumah Tangga P-IRT.

Ia menyebut saat ini sejumlah produk yang cukup diminati di pasarTiongkok, antara lain makanan ringan, kopi, dan biskuit, termasuk  produk perawatan rambut (hair treatment).

Lisa pun menyatakan harapannya agar produk industri dan usaha kecil menengah Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk negara lain yang sudah sejak lama memanfaatkan fasilitas gudang berikat PLB e-commerce. Dengan tingginya pemanfaatan sistem digital di Indonesia, menurut Lisa sudah seharusnya Indonesia menjadi pemain e-commerce nomor empat dunia.

Melansir data hasil penelitian Google-Temasek-Bain (2019), tercatat peningkatan Gross Merchandise Value (GMV) e-commerce di Indonesia mencapai US$ 21 miliar, dan diperkirakan akan meningkat menjadi US$ 82 miliar pada 2025.

Secara terpisah, M. Rudy Salahuddin selaku Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan UKM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dalam kesempatan berbicara pada Forum e-commerce di Jakarta, mengemukakan, jika melihat manfaatnya yang membantu dari segi logistik, pemerintah pun sangat mendukung pelaksanaan PLB e-commerce. Ia dipandang sebagai fasilitas yang dibutuhkan di era digitalisasi, dan menjadikan pengiriman barang khususnya milik para IKM dan UKM menjadi lebih efisien.

“Pertimbangannya karena dengan PLB e-commerce, barang yang akan diantar tidak perlu menunggu antara 3 sampai 4 hari untuk sampai, melainkan hanya membutuhkan waktu pengiriman sekitar tiga jam dari gudang PLB e-commerce ke daerah tujuan seluruh Indonesia,” ujar Rudy

Demikian juga barang dari dalam negeri juga akan lebih mudah untuk penetrasi ke pasar ekspor jika sudah masuk ke gudang berikat PLB e-commerce. Didukung ketersediaan gudang PLB e-commerce terkait di negara tujuan ekspor, maka produk ekspor bisa lebih cepat tiba di negara tujuan.

Sementara itu Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Suhanto usai menyaksikan penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) pelaku usaha UKM dapat melakukan konsolidasi data di Jakarta pada Senin (9/12) lalu mengemukakan, saat ini dari total jumlah 62 juta UMKM di Indonesia, ditengarai baru 14% UMKM yang mengekspor produknya.

Untuk itu pihaknya menugaskan dua BUMN yakni PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) dan PT Sarinah (Persero) menjadi fasilitator, dan mengumpulkan semua produk yang siap diekspor, termasuk produk milik IKM dalam sistem PLB e-commerce Distribution Centre (EDC).

Melalui penandatanganan MoU ini, pemilik produk bisa menikmati kemudahan dalam menggunakan PLB e-commerce, dan masuk ke gudang PLB e-commerce di kawasan berikat Marunda Centre, untuk berikutnya dikirim ke gudang berikat PLB e-commerce di Tiongkok. Di sana produk-produk tersebut dijual dengan sistem daring (online).

“Jika pesanan sudah muncul di sistem online, tidak akan butuh waktu lama untuk menjual barangnya, karena barang dimaksud sudah tersedia di gudang berikat. Hal seperti ini memudahkan pelaku usaha dalam menjual produknya. Sebab para IKM-UKM memiliki keterbatasan dalam hal volume penjualan produk, sehingga perlu memfasilitasi mereka
secara kolektif melalui konsolidasi BUMN, termasuk juga perusahaan logistik, akan mempermudah mereka saat menjual produknya di pasaran ekspor,” imbuh Suhanto.

Produk yang akan difasilitasi ini terlebih dulu dikurasi baik oleh BUMN dan juga perusahaan pengelola PLB e-commerce seperti PT UIC, termasuk juga koperasi sehingga mereka hanya akan mengirim produk yang memenuhi selera pasar ekspor.

 



Sumber: Majalah Investor