Tantangan Petani di Indonesia Makin Kompleks

Tantangan Petani di Indonesia Makin Kompleks
Petani teh. ( Foto: Antara / Iggoy el Fitra )
Herman / FMB Kamis, 12 Desember 2019 | 11:15 WIB

Jakarta, Beritsatu.com - Berdasarkan laporan Asia Food Challenge Report, negara-negara di Benua Asia bakal mengalami krisis pangan dalam 10 tahun ke depan. Meskipun tidak disebutkan secara spesifik, Indonesia tentunya juga perlu mewaspadai ancaman krisis pangan tersebut.

Perwakilan Industri Perlindungan Tanaman dan Perbenihan, Midzon Johannis menyampaikan, saat ini tantangan yang dihadapi petani Indonesia memang semakin kompleks. Di Indonesia sendiri ada sekitar 28 juta rumah tangga yang hidup dalam pertanian. Jika dalam satu keluarga memiliki satu istri dan satu anak, maka jumlahnya hampir mencapai 100 juta penduduk.

“Saat ini tantangan yang dihadapi petani memang tidak mudah. Apalagi jumlah penduduk kita juga terus bertambah, sehingga kebutuhannya pun terus meningkat. Estimasinya di tahun 2030 ada sekitar 300 juta penduduk,” kata Midzon Johannis di acara diskusi yang digelar Institute for Food and Agriculture Development Studies (IFADS), di Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Selain populasi penduduk yang terus meningkat, mayoritas petani Indonesia adalah petani gurem dengan luas lahan garapan kurang dari 0,5 hektar. Johannis mengatakan jumlahnya sekitar 57 persen dari total petani di Indonesia.

“Migrasi penduduk dari desa ke kota juga jadi tantangan tersendiri. Di tahun 2030, estimasinya 70 persen penduduk Indonesia tinggal di kota, sehingga ini membuat kita sangat kekurangan SDM pertanian. Apalagi saat ini tidak banyak anak muda yang tertarik untuk bekerja di sektor pertanian,” tuturnya.

Bukan hanya persoalan SDM pertanian, ketersediaan lahan pertanian yang semakin menyempit juga menjadi tantangan besar. Padahal kebutuhan produksi semakin tinggi seiring dengan pertambahan populasi penduduk. “Setiap tahunnya, 100.000 hektar lahan pertanian berkurang,” kata Johannis.

Tantangan selanjutnya terkait perubahan iklim yang sembuat lahan pertanian mengalami kekeringan akibat kurang air. “Di bulan Oktober sampai Maret, tadinya sudah mulai musim hujan. Tetapi sekarang ini sangat sulit untuk diprediksi. Bahkan sudah masuk bulan Desember masih saja musim kemarau. Kondisi ini pada akhirnya membuat produktivitas tanaman pertanian menurun. Belum lagi adanya serangan dari hama penyakit tanaman,” papar Johannis.

Tantangan yang dihadapi ini membuat produktivitas tanaman terus menurun. Johannis mengambil contoh produksi jagung yang hanya mencapai rata-rata 5,7 juta ton per hektar. Sementara di Amerika Serikat dengan luas lahan yang sama bisa mencapai rata-rata 10,5 juta ton.

“Saat ini petani harus bertani dengan kondisi yang semakin terbatas. Petani harus bisa mengatasi perubahan iklim dan cuaca, memenuhi selera konsumen yang terus berubah, memproduksi pangan yang lebih banyak dan berkualitas, serta menghadirkan pangan dengan harga terjangkau,” ujar Johannis.



Sumber: BeritaSatu.com