2020, Konsumsi Kopi Diproyeksikan Naik 13,9%

2020, Konsumsi Kopi Diproyeksikan Naik 13,9%
Vice President Sales and Marketing Toffin Indonesia, Nicky Kusuma. ( Foto: Beritasatu Photo / Lona Olavia )
Lona Olavia / WBP Selasa, 17 Desember 2019 | 14:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tren kedai kopi di tahun 2020 diyakini akan terus bertumbuh. Konsumsi kopi domestik yang dikeluarkan Global Agricultural Information Network pun memproyeksi akan mencapai 294.000 ton atau naik 13,9 persen dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 258.000 ton.

"Pertumbuhan tersebut didukung sejumlah faktor," kata Vice President Sales and Marketing Toffin Indonesia, Nicky Kusuma di Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Faktor pertama, kebiasaan (budaya) nongkrong sambil ngopi. Kedua, meningkatnya daya beli konsumen, tumbuhnya kelas menengah, dan harga kopi siap minum di kedai modern yang lebih terjangkau. Ketiga, dominasi populasi anak muda Indonesia (Generasi Y dan Z) yang menciptakan gaya hidup baru dalam mengonsumsi kopi.

Keempat, kehadiran media sosial memudahkan pebisnis kedai kopi melakukan aktivitas marketing dan promosi. Kelima, kehadiran platform ride hailing (Grabfood dan Go Food) memudahkan proses penjualan. Keenam, rendahnya entries barriers dalam bisnis kopi yang ditunjang ketersediaan pasokan bahan baku, peralatan (mesin kopi), dan sumber daya untuk membangun bisnis kedai kopi. Ketujuh, margin bisnis kedai kopi yang relatif cukup tinggi.

"Apalagi secara per kapita, konsumsi kopi masyarakat Indonesia relatif masih rendah dibandingkan negara lain, yaitu hanya sekitar 1 kilogram pada 2018. Sedangkan Vietnam yang tingkat pendapatannya di bawah Indonesia konsumsi kopi per kapitanya mencapai 1,5 kilogram," kata Nicky Kusuma.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, tak heran jumlah kedai kopi di Indonesia dalam tiga tahun terakhir meningkat tiga kali lipat dari 1.083 outlet di 2016 menjadi 2.937 outlet per Agustus 2019. Dengan jumlah gerai yang terdata saat ini dan asumsi penjualan rata-rata per outlet 200 cup per hari, serta harga kopi per cup Rp 22.500, Toffin memperkirakan nilai pasar kedai kopi di Indonesia mencapai Rp 4,8 triliun per tahun. "Jumlah outlet tersebut tidak termasuk warung kopi dengan skala kecil yang juga ada di daerah terpencil," kata Nicky Kusuma.

Perusahaan penyedia solusi bisnis berupa barang dan jasa di industri horeka (hotel, restoran, dan kafe) tersebut pun mereferensikan kepada pebisnis kopi bahwa minuman dengan rasa lokal seperti kopi susu gula aren, klepon, kopyor, dan pisang cokelat menjadi rasa baru yang akan menjadi tren di tahun depan. Hal ini dilihat dari tingginya permintaan bahan-bahan tersebut dari para pelaku usaha kepada pemasok bahan. "Minuman dengan bahan campuran alami akan semakin diminati," pungkas Nicky Kusuma.

Dari sisi bisnis, penjualan produk kopi siap minum pun terus meningkat. Menurut data Euromonitor, pada 2013 retail sales volume RTD Coffee Indonesia hanya sekitar 50 juta liter, pada 2018 menjadi hampir 120 juta liter. Proyeksi pertumbuhan pada 2020 ini tambahnya berdasarkan insight dari konsumen yang dikumpulkan melalui survei online kepada kalangan muda (generasi Y dan Z) penggemar kopi di Indonesia.

Hasil survei tersebut antara lain menunjukkan bahwa kedai kopi siap saji berkualitas dengan harga terjangkau sangat diminati generasi yang mendominasi populasi Indonesia saat ini. Dalam setahun terakhir, 40 persen generasi ini membeli minuman kopinya dari gerai kopi jenis ini. Dengan rata-rata alokasi belanja untuk minuman kopi Rp 200.000 per bulan, bisnis kedai kopi jenis ini diperkirakan akan tumbuh signifikan pada tahun-tahun mendatang.



Sumber: Suara Pembaruan