Ride Hailing Dorong Booming Kedai Coffe to Go

Ride Hailing Dorong Booming Kedai Coffe to Go
Kedai kopi Javaroma Bottega del Caffe. ( Foto: Beritasatu Photo )
Lona Olavia / FER Selasa, 17 Desember 2019 | 16:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kalangan pelaku bisnis kedai kopi di Indonesia, membagi perjalanan industri ini ke dalam empat gelombang besar.

2020, Konsumsi Kopi Diproyeksikan Naik 13,9%

Head of Marketing Toffin, perusahaan penyedia solusi bisnis berupa barang dan jasa di industri Horeka (hotel, restoran, dan kafe), Ario Fajar mengatakan, pada gelombang ini hadir berbagai inovasi seperti varian rasa produk kopi susu, cara pembelian yang lebih mudah, dan strategi pemasaran.

Gelombang pertama, yakni dekade 1980-1990-an. Pada masa ini, sebagian besar masyarakat Indonesia menikmati kopi instan (dalam kemasan sachet) yang disediakan oleh manufaktur produk-produk konsumer (ABC, Kapal Api, Torabika, Nescafe) dan kopi tubruk tidak bermerek.

"Pada masa ini, produk siap saji ini lebih banyak disediakan oleh warung kopi tradisional dan oleh sedikit gerai kopi modern, yaitu Dunkin (1985), Olala (1990), dan Excelso (1991)," ujar Ario di Jakarta, Selasa (17/12/2019).

Head of Marketing Toffin

Ririn Ekawati Rambah Bisnis Kedai Kopi

Gelombang kedua, kata Ario, yakni dekade 2000. Pada masa ini tren minum kopi di kedai kopi modern mulai berubah dari tren untuk memenuhi kebutuhan fungsional (minum kopi untuk menyegarkan) menjadi untuk memenuhi kebutuhan emosional, di mana menikmati segelas kopi di gerai modern dipersepsi dapat menaikkan gengsi.

"Masa ini ditandai dengan masuknya brand jaringan kedai kopi modern dari Amerika Serikat Starbucks (2002) dan Coffee Bean (2001)," papar Ario.

Sementara, gelombang ketiga terjadi di awal dekade 2010-2015). Pada masa ini, apresiasi konsumen terhadap kopi makin meningkat yang ditandai dengan hadirnya kedai kopi artisan seperti Tanamera pada 2013. Pada masa ini konsumen tidak hanya menikmati gengsi minum kopi di kafe, melainkan mulai tertarik dengan proses produksi secangkir kopi. Selain itu, kehadiran mesin kopi menjadi referensi visual bagi konsumen.

"Pada masa ini, kalangan pebisnis makin menyadari seksinya bisnis kedai kopi di Indonesia. Banyak brand baru mulai masuk ke pasar," ujar Ario di Jakarta, Selasa (17/12).

Untuk gelombang keempat terjadi 2016 sampai sekarang). Pada masa ini, besarnya pasar atau market size kedai kopi di Indonesia meningkat signifikan. Sejumlah brand baru kedai kopi bermunculan dan masing-masing langsung ekspansif membuka puluhan hingga ratusan cabang di berbagai kota.

Untuk menggarap segmen muda khususnya kalangan anak-anak sekolah hingga first jobber, pebisnis kedai kopi membuka kedai coffee to go, yaitu kedai kecil yang menyediakan fresh ready to drink (RTD) coffee dengan harga terjangkau untuk dibawa pulang atau tidak dikonsumsi di tempat atau take away.

"Selain itu, kehadiran platform ride hailing Gofood dan Grabfood ikut mendorong booming kedai coffee to go ini," pungkas Ario.



Sumber: Suara Pembaruan