Maurel & Prom Permudah Ekspansi Pertamina di LN

Maurel & Prom Permudah Ekspansi Pertamina di LN
dari kiri: Direktur ESDM Pertamina Koeshartanto, Direktur Hulu Pertamina Dharmawan H Samsu, Direktur Eksplorasi Maurel & Prom Andang Bachtiar, dan Dirut Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi Danie S Tampubolon. ( Foto: Beritasatu / Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / HA Minggu, 22 Desember 2019 | 21:52 WIB

Bordeaux, Beritasatu.com - Keberadaan Maurel & Prom mempermudah langkah ekspansi Pertamina di luar negeri. Wilayah operasinya yang berada di berbagai negara dengan konsentrasi di Afrika dan Amerika Latin membantu ekspansi Pertamina. Ada sejumlah negara di Afrika yang memiliki cadangan minyak dalam jumlah besar dan belum banyak dimasuki perusahaan migas asing.

"Maurel & Prom menjadi perpanjangan tangan Pertamina di luar negeri," kata Dharmawan H Samsu, Direktur Hulu Pertamina saat meninjau pengeboran minyak mentah di Mios, Bordeaux, Perancis, Sabtu (21/12/2019) pagi waktu setempat. Hadir pada kesempatan itu Direktur Utama PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) Danie Tampubolon dan Direktur SDM Pertamina Koeshartanto. Ladang minyak yang ditemukan 2012 ini berkapasitas 500 barel per hari (bph) minyak mentah. Mulai Januari 2020, sumur ini sudah bisa produksi dan hasilnya diolah di kilang minyak tidak jauh dari kota Bordeaux, Prancis.

Memiliki 70% saham Maurel & Prom (M&P), kata Dharmawan, memberikan sejumlah manfaat kepada Pertamina. Pertama, perusahaan ini berpengalaman melakukan pengeboran minyak di wilayah yang sangat ketat dengan persyaratan mengenai lingkungan hidup. Lapangan pengeboran di Mios, Bordeaux, Prancis, terletak di tengah kawasan perkebunan eukalyptus milik pemerintah dan dekat dengan kebun anggur penduduk. Namun, kehadiran sumur minyak perusahaan ini tidak menimbulkan masalah lingkungan.

Ladang minyak Maurel & Prom di Mios, Bordeaux, Prancis. (Primus Dorimulu)

Berawal dari perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan, 1831, M&P kemudian shifting menjadi perusahaan migas dengan melakukan eksplorasi tahun 1998. M&P selanjutnya memasuki sejumlah negara di Afrika seperti Gabon (2005), Tanzania (2005), Nigeria (2010), Namibia (2012), Konggo (2001) dan Angola (2018). M&P juga memasuki Venezuela, Kanada, Sisilia (Italia) selain di negerinya, Prancis. M&P sudah 200 tahun berkiprah di perusahaan migas dan dalam 20 tahun terakhir aktif melakukan eksplorasi dan eksploitasi di sektor ini.

Kedua, M&P adalah perusahaan yang efisien. Meski kecil, perusahaan ini bisa beroperasi di sejumlah negara dan sudah membukukan keuntungan. Pada tahun 2018, demikian data resmi perusahaan terbuka ini, M&P meraih penjualan bersih sebesar US$ 440 juta, naik 10% dari tahun sebelumnya. Sedang EBITDA perseroan pada tahun yang sama US$ 24 juta, meningkat 30% dari tahun sebelumnya. Perseroan mencetak laba bersih US$ 62 juta dan memberikan dividen US$ 10 juta atau US$ 0,05 per saham untuk tahun buku 2018.

Saat ini, produksi minyak M&P sekitar 30.000 bph. Sebesar 20.000 bph dihasilkan oleh lapangan minyak di Gabon, Afrika. Sekitar 8.000 bph dihasilkan ladang minyak di Tanzania. Sisanya dihasilkan ladang di Angola dan Venezuela. Sedang 10.000 bph adalah equity interest dari kegiatan migas M&P di Nigeria.

Ketiga, perusahaan yang diakuisisi Pertamina tahun 2016 ini menjadi salah satu tangan Pertamina untuk mendapatkan akses informasi mengenai ladang minyak baru di luar negeri. Pertamina memiliki sejumlah akses untuk mendapatkan peluang bisnis migas di luar negeri. Pertamina kini sudah beroperasi di 13 negara. Namun, peran M&P sangat membantu Pertamina.

Gabon, Kongo, Nigeria, Tanzania, Namibia, demikian Dharmawan, adalah negara yang memiliki cadangan minyak besar dan M&P sudah masuk di sana. M&P juga beroperasi di Venezuela dan Columbia, Amerika Latin. Kegiatan pengelolaan migas yang melampaui kapasitas akan diberikan M&P kepada Pertamina.

Faktor keempat, kata Dharmawan, adalah posisi M&P yang berkantor pusat di Paris, kota yang terletak di jantung bisnis Eropa. "Pertamina tak perlu memiliki kantor sendiri," ungkap Dharmawan.

Untuk memperkuat akses ke sentra produksi migas di luar megeri, pada Februari 2017, Pertamina lewat PT Pertamina Internasional Eksplorasi dan Produksi (PIEP) merampungkan akuisisi saham M&P sebesar 70%. Transaksi dilakukan beberapa kali lewat tender offer sesuai persyaratan Authorite Des Marches Financiers, Otoritas Bursa Saham Prancis.

Kelima, demikian Denie Tampubolon, dengan menguasai mayoritas saham M&P, Pertamina memiliki aset di berbagai negara, tempat perusahaan migas itu beroperasi. Aset utama mereka di Gabon dan Tanzania, misalnya, adalah juga aset Pertamina. Keenam, pada masa akan datang, minyak mentah produksi M&P bisa dibawa ke Indonesia untuk diproduksi di kilang BBM Pertamina.

Ketujuh, kata Denie, M&P juga akan memberikan dividen. Meski masih kecil, untuk tahun buku 2018, perusahaan ini sudah memberikan dividen sebesar US$ 10 juta.

Pada perdagangan saham di Bursa Saham Prancis, Jumat (20/12/2019) harga saham M&P ditutup pada level 2,73 Euro dengan nilai kapitalisasi 547,9 juta Euro atau setara Rp 8,5 triliun pada kurs Rp 15.500 per Euro. Dengan menguasai 70% saham M&P, nilai saham Pertamina di M&P sebesar Rp 5,9 triliun.

Kepemilikan saham Pertamina di M&P bukan untuk mencari keuntungan lewat selisih harga saham. Keputusan pembelian saham perusahaan ini di masa lalu telah melewati proses due diligent yang panjang. "M&P telah menjadi salah satu tangan Pertamina untuk memperkuat ekspansi di luar negeri di samping sejumlah manfaat yang sudah dijelaskan," kata Dharmawan.

Pada kuartal pertama 2019, EBITDA perusahaan ini sebesar US$ 137 juta atau naik 15% dari periode yang sama tahun 2018. Sedang penjualan mencapai US$ 229 juta. "Sebagai perusahaan terbuka, kami tidak boleh membuat prognosa. Tapi, past perfomance kami cukup mengesankan," kata Oliver de Langavant, CEO M&P di kantornya, Jumat (20/12/2019).

Sebagai controller shareholder, kata Denie, Pertamina menempatkan empat dari tujuh orang di board of directors M&P. Pertamina memiliki hak suara terbesar dalam RUPS. Pertamina juga menempatkan tiga orang dalam manajemen operasional, yakni direktur eksplorasi, deputi direktur eksplorasi, dan tenaga ahli keuangan.



Sumber: BeritaSatu.com