2020, Investasi Airnav Rp 2,23 T

2020,  Investasi Airnav Rp 2,23 T
Dirut Airnav Indonesia Novie Riyanto Rahardjo (tengah) saat Workshop Navigasi Penerbangan di Jakarta, Kamis (26/12/2019) ( Foto: Suara Pembaruan / Listyorini )
Sri Rejeki Listyorini / EHD Kamis, 26 Desember 2019 | 19:59 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tahun 2020, Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI), Airnav, mengalokasikan investasi sekitar Rp 2,23 triliun untuk meningkatkan layanan penerbangan.
Investasi terbesar dipakai untuk otomatisasi sistem navigasi penerbangan sebesar Rp 1,18 triliun.

"Anggaran tersebut memakan separuh lebih dari nilai investasi AirNav Indonesia tahun 2020," kata Dirut AirNav Indonesia Novie Riyanto Raharjo saat Workshop Navigasi Penerbangan di Jakarta, Kamis (26/12/2019).

Dalam workshop bertajuk Konektivitas Udara Untuk Indonesia Maju, Novie mengatakan, sedikitnya ada enam katagori investasi AirNav tahun depan diantaranya terkait dengan pembangunan gedung serta dukungan fasilitas lainnya yang mencapai Rp 463 miliar, sedangkan investasi yang memakan anggaran cukup besar meliputi pengadaan alat navigasi yang mencapai Rp 174,2 miliar serta surveillance yang mencapai Rp 172 miliar. Sedangkan investasi alat komunikasi Rp 139,1 miliar, mechanical dan electrical Rp 104,2 miliar.

Novie mengungkapkan, investasi menurut wilayah masih menempatkan pulau Jawa sebagai penyerapan anggaran terbesar yang mencapai Rp 1,34 triliun, diikuti wilayah Sumatera Rp 213,9 miliar, Kalimantan Rp 195,9 miliar, Papua Rp 173, 65 miliar, dan Balinusra Rp 162,8 miliar.

Investasi yang menjadi prioritas tahun depan, kata Novie, terkait dengan Upgrade ATC System, ATC Tower, Tower Set Modular Transportable, ADS-B yang meliputi peremajaan dan upgrade ADS-B di beberapa bandara di Indonesia. Terakhir tetkait dengan surveillance dan navigation, seperti Extension Surface Movement Radar Runway 3 Bandara Soetta, Instrument Landing System di Samarinda, Denpasar, Banjarmasin dan Palangkaraya.

Mengingat penerbangan di Papua memerlukan perhatian khusus, Novie mengatakan, pihaknya memulai dengan peningkatan kualitas SDM Papua, diantaranya menghadirkan 11 putra Papua.

Ia mengatakan, pada 2019 Airnav berhasil membukukan pendapatan Rp 3,7 triliun dan perolehan laba Rp 479 miliar, meningkat dibanding 2018 sebesar Rp3,3 triliun untuk pendapatan dan laba Rp 406 miliar.

Menurut Novie, penurunan penumpang domestik tidak berdampak langsung terhadap kinerja keuangan karena sumber pendapatan terbesar adalah internasional.

Capaian AirNav Indonesia lainnya pada 2019 adalah zero accident atau bisa dibilang tidak menemui kendala yang berarti, baik saat landing maupun take off di 38 bandara yang dilayani.

Novie mengemukakan, AirNav dengan pilar utama menjadi penyedia jasa navigasi penerbangan bertaraf internasional dalam visinya, dan menyediakan layanan navigasi penerbangan yang mengutamakan keselamatan, efisiensi penerbangan dan ramah lingkungan demi memenuhi ekspektasi pengguna jasa dalam misi, baik itu steamless ATM, safatey perpormance, customer satistaction, corporate sustainability maupun intergrated information system’.

"Hari libur maupun tidak libur, AirNav tetap melayani masyarakat khususnya pesawat baik saat landing dan take off. Dan yang bikin kita stres adalah cuaca yang tidak menentu seperti angin kencang saat penerbangan, namun kita harus tetap aware terhadap cuaca,” tandas Novie, yang didampingi Direktur operasi M. Khatim dan juru bicara AirNav Yohannes.

Novie menyebutkan, dalam tahun 2019 AirNav menambah 3144 peralatan baru navigasi di berbagai bandara.

Meski pertumbuhan ekonomi 2020 diprediksi mengalami perlambatan, Novie memperkirakan jumlah penumpang pesawat terbang naik 4 persen menjadi 4,72 juta dibanding 2019 sebanyak 4,54 juta.

 



Sumber: Suara Pembaruan