Tekan Tiket Pesawat, INACA Minta Avtur Disamakan

Tekan Tiket Pesawat, INACA Minta Avtur Disamakan
Avtur Pertamina. ( Foto: Dok )
Herman / YUD Kamis, 26 Desember 2019 | 21:14 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Indonesia National Air Carriers Association (INACA) menyambangi kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk membahas berbagai persoalan terkait dunia penerbangan di Indonesia. Salah satu yang dibahas terkait harga avtur yang saat ini masih berbeda antara Indonesia bagian timur, tengah, dan barat.

Dalam pertemuannya dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, INACA meminta pemerintah untuk bisa menetapkan satu harga bahan bakar pesawat tersebut untuk seluruh wilayah Indonesia.

"Terkait masalah avtur, diharapkan ada pemerataan (harga) baik di wilayah Indonesia tengah, timur, dan barat," kata Ketua Umum INACA, Denon Prawira Atmaja, di gedung Kemko Perekonomian, Jakarta, Kamis (26/12/2019).

Dengan adanya penyeragaman harga, Denon meyakini operator maskapai bisa lebih kompetitif karena avtur merupakan biaya komponen terbesar dalam operasional pesawat yang menentukan harga tiket pesawat disamping fluktuasi mata uang asing.

Menurut Denon, pemerintah juga menyambut baik usulan INACA tersebut. Tim dari Kementerian Koordinator Perekonomian menurutnya juga tengah melakukan kajian untuk bisa menyeragamkan harga avtur. Kajian tersebut dilakukan antara lain di bandara wilayah timur Indonesia dengan harga avtur yang lebih tinggi hingga Rp 3.000 per liter.

“Komponen cost inilah yang tadi banyak kita sampaikan kepada Pak Menko. Bila komponen cost ini bisa turun, tentu harga tarif tiket diharapkan bisa turun, sehingga ini bisa membantu banyak masyarakat juga,” ujarnya.

Denon mengatakan INACA juga menyambut baik rencana pemerintah untuk menghadirkan produsen avtur selain Pertamina, sehingga diharapkan bakal ada penawaran harga avtur yang lebih murah.

“Dari pemerintah sudah menginisiasi untuk menghadirkan kompetitor penyelenggaraan avtur. Sepanjang nanti pada saat pelaksanannya bisa dilakukan di beberapa bandara, saya pikir untuk memberikan harga yang lebih bersaing, kami akan menyambut baik,” kata Denon.

Hal lainnya yang dibicarakan adalah terkait larangan dan pembatasan (Lantas) impor komponen suku cadang pesawat yang dinilai masih tinggi, yakni sebesar 47%. Denon membandingkan dengan Malaysia yang juga memberlakukan larangan dan pembatasan impor komponen pesawat, namun hanya sebesar 17%.

“Kami dari INACA berharap ke depan untuk kelancaran industri penerbangan, Lantas ini bisa diturunkan persentasenya, sehingga kelancaran bisnis penerbangan bisa lebih baik,” kata Denon.



Sumber: BeritaSatu.com