Kemhub Beberkan Penyebab Tol Jakarta-Cikampek dan Cipali Banjir

Kemhub Beberkan Penyebab Tol Jakarta-Cikampek dan Cipali Banjir
Sejumlah kendaraan terhenti akibat banjir melanda Tol Jakarta-Cikampek Km 23 di Cibitung, Kabupaten Bekasi, Rabu, 1 Januari 2020. ( Foto: ANTARA FOTO/Arisanto/fm )
Thresa Sandra Desfika / WBP Senin, 6 Januari 2020 | 18:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerintah bersama stakeholders berkomitmen membenahi saluran air di Jalan Tol Jakarta-Cikampek yang sempat banjir di Km 19 dan Km 24 pada 1 Januari 2020.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemhub) Budi Setiyadi menjelaskan, banjir sempat melanda di Jalan Tol Jakarta-Cikampek titik Km 24 dan Km 19. Banjir itu diperkirakan karena banyaknya saluran air yang tertutup jalan proyek konstruksi di sekitarnya, seperti proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Jalan Tol Cibitung-Cilincing, termasuk Tol Layang Jakarta-Cikampek.

"Saya ke lapangan dengan stakeholders. Jadi, begitu ada pekerjaan tol elevated, kereta cepat, dan yang lain banyak yang tadinya saluran air terhambat jalan kerja. Jadi, tadinya bagus, tapi ditutup untuk jalan kerja dan mobilisasi alat berat dan sebagainya," terang Budi Setiyadi di Jakarta, Senin (6/1/2020).

Tol Dalam Kota Digratiskan Hingga Jam 12 Siang

Budi menuturkan, pihaknya bersama PT Jasa Marga, PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), PT Wijaya Karya, dan PT Waskita Karya mengadakan rapat membahas banjir yang terjadi di Tol Jakarta-Cikampek. "Kami rapat koordinasi untuk lihat faktor penyebabnya. Jadi, gorong-gorong tersumbat, jalur air di beton, dan sebagainya. Tanggal 5 Januari itu sudah selesai sudah ada MoU bagi-bagi tugas untuk treatment," papar Budi Setiyadi.

Pertama dalam Lima Tahun, Tol Cipali Tergenang Air

Selain itu, lanjut Budi, banjir juga terjadi di Tol Cikampek-Palimanan (Cipali) KM 136 pada 31 Desember 2019 . Kemhub pun bersama Polres Indramayu dan Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan mengadakan rapat koordinasi terkait hal itu. Dari rapat tersebut, terdapat beberapa hal yang diperkirakan penyebab banjir, antara lain 10 kilometer di bagian hulu terdapat galian serta sungai antara hulu dan hilir terjadi penyempitan sehingga dibutuhkan normalisasi.

"500 meter sungai antarhulu dan hilir akan dilebarkan. Dari sisi volume atau debit seharusnya bisa menampung tapi terjadi penghambatan. Kita juga cek 13 gorong-gorong di jalur Cipali untuk diaudit," imbuh Budi Setiyadi.



Sumber: Investor Daily