Realisasi Lifting Migas Hanya Capai 90,5% dari Target APBN

Realisasi Lifting Migas Hanya Capai 90,5% dari Target APBN
Konferensi pers SKK Migas Capaian 2019 dan Rencana 2020, Jakarta, 9 Januari 2020 ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Kamis, 9 Januari 2020 | 20:33 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyampaikan realisasi produksi minyak dan gas (migas) siap jual atau lifting di 2019 yang meleset dari target APBN 2019.

Presiden Instruksikan Dirut Pertamina Pangkas Impor Migas

Tercatat realisasi lifting migas pada 2019 sebesar 1,806 juta BOEPD (Barel Oil Equivalent Per Day). Capaian ini lebih rendah dari tahun sebelumnya yang mencapai angka 1,917 juta BOEPD.

"Realisasi lifting migas mencapai 90,5 persen dari target APBN 2019 yang sebesar 2,025 juta BOEPD. Namun, realisasi ini sudah mencapai 101,1 persen dari Work Program and Budget (WP&B) 2019," kata Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, di acara konferensi pers SKK Migas mengenai capaian 2019 dan rencana 2020, di Jakarta, Kamis (9/1/2020).

Rincian dari realisasi lifting migas 2019 adalah lifting minyak 746.000 BOPD (Barrel Oil Per Day) atau 96,3 persen dari target APBN 2019 dan 102,3 persen dari WP&B 2019. Sementara lifting gas mencapai 5.934 MMSCFD atau 84,5 persen dari target APBN 2019 dan 99,9 persen dari WP&B 2019.

Pengendalian Impor Migas Harus Diperkuat

Dwi menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat lifting migas di 2019 meleset dari target APBN. Dari sisi minyak bumi,menurut Dwi produksi minyak 2019 terdampak sejumlah peristiwa kebocoran seperti di Blok Cepu yang bila dihitung berkurang 2.900 barel per hari.

Kemudian masalah kebocoran dan kelistrikan di Blok Offshore Southeast Sumatra (OSES) milik Pertamina Hulu Energi (PHE), hingga dampak kebakaran hutan di Riau yang mengganggu produksi.

"Untuk lifting minyak, kita sebetulnya punya potensi capai 752.000 barrel per hari, tetapi ada beberapa faktor yang membuat terjadi pengurangan,” kata Dwi.

Sementara itu, kekurangan lifting gas salah satunya diakibatkan oleh persoalan harga gas dunia yang sangat rendah di 2019. Lifting gas juga terdampak oleh insiden kebocoran gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ).

Dalam APBN 2020, Lifting migas pada tahun ini ditargetkan mencapa 1,946 juta BOEPD. Untuk meningkatkan produksi di 2020, Dwi memaparkan beberapa strategi yang akan dijalankan SKK Migas antara lain mempertahankan tingkat produksi eksisting yang tinggi, transformasi sumber daya ke produksi, mempercepat Chemical enhanced oil recovery (EOR), hingga melakukan eksplorasi untuk penemuan besar.



Sumber: BeritaSatu.com