Menristek: Hasil Riset Harus Sesuai Kebutuhan Industri

Menristek: Hasil Riset Harus Sesuai Kebutuhan Industri
Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro memberi sambutan di acara kelulusan program Apple Developer Academy angkatan ke-2, di BSD City, Tangerang Selatan, 14 Januari 2020 (Foto: Beritasatu Photo / Herman)
Herman / FER Selasa, 14 Januari 2020 | 19:48 WIB

Tangerang Selatan, Beritasatu.com - Menteri Riset, Teknologi dan Kepala Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Bambang Brodjonegoro mengatakan salah satu kelemahan dari riset inovasi di Indonesia adalah masih adanya gap yang besar antara sisi peneliti dengan industri.

Apple Developer Academy Batch 2 Luluskan 194 Developer

Dari sisi peneliti, Bambang melihat seringkali penelitian yang dilakukan tidak bisa berlanjut ke arah hilirisasi atau diaplikasikan dalam industri, antara lain karena tidak sesuai dengan kebutuhan industri.

Sedangkan dari sisi industri, masih ada keengganan untuk menggunakan hasil riset dari peneliti Indonesia, misalnya untuk pengembangan produk. Kebanyakan dari mereka lebih suka membeli lisensi yang sudah ada. Karenanya, ke depan yang akan dididorong adalah hasil riset berbasis kebutuhan industri.

"Agar riset dan inovasi bisa menopang kemandirian ekonomi nasional, riset inovasinya harus yang langsung nyambung ke sektor manufaktur. Hasil riset bisa keluar dalam bentuk produk yang memiliki daya saing, agar industri manufaktur kita bisa lebih kompetitif,” kata Bambang Brodjonegoro di acara kelulusan program Apple Developer Academy angkatan ke-2, di BSD City, Tangerang Selatan, Selasa (14/1/2020).

Menristek Dukung Pengembangan Obat Modern Asli Indonesia

Ditegaskan Bambang, riset dan teknologi (ristek) harus menjadi motor utama transformasi ekonomi Indonesia. Caranya dengan mengedepankan inovasi, terutama di sektor industri. Sebab hanya dengan menjadi negara industri, Indonesia bisa menjadi negara maju. Dalam lima tahun ke depan, kementerian yang dipimpinnya juga akan terus mendorong lahirnya inovasi yang nantinya bisa menciptakan keunggulan bagi perekonomian Indonesia.

"Menjadi negara industri juga tidak cukup hanya dengan membangun pabrik perakitan saja. Indonesia harus mampu menciptakan produk sendiri yang lahir dari riset inovasi,” kata Bambang.

Selain mendorong lahirnya inovasi, perkembangan perusahaan rintisan atau startup juga menjadi perhatian khusus pemerintah. Tahun ini, Kemristek/BRIN juga telah menyiapkan dana hibah untuk mendorong kemajuan startup di Indonesia, mulai dari tingkat pra-startup hingga startup.

"Kita sudah menyiapkan dan hibah untuk pra-startup dan startup. Tinggal ajukan aplikasi saja ke tempat kami, nilainya mulai dari ratusan juta rupiah. Melalui hibah ini, harapannya aplikasi yang sudah dibuat bisa dikembangkan jadi suatu usaha yang lebih besar lagi,” kata Bambang.



Sumber: BeritaSatu.com