Hacktiv8 Raih Pendanaan Pra-Seri A US$ 3 Juta

Hacktiv8 Raih Pendanaan Pra-Seri A US$ 3 Juta
Kiri ke kanan: Riza Fahmi dan Ronald Ishak, Co-founders Hacktiv8 (Foto: Ist)
Faisal Maliki Baskoro / FMB Rabu, 15 Januari 2020 | 14:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hacktiv8, sekolah pemrograman berbentuk bootcamp yang berlokasi di Jakarta, mengumumkan pendanaan Pra-Seri A senilai US$3 juta dari sekelompok investor yang dipimpin oleh East Ventures, Sovereign's Capital, SMDV, Skystar Capital, Convergence Ventures, RMKB Ventures, Prasetia, serta Everhaus turut berpartisipasi dalam ronde pendanaan tersebut.

Roland Ishak dan Riza Fahmi, yang merasa resah dengan tren saling bajak tenaga pengembang di antara perusahaan-perusahaan teknologi, mendirikan Hacktiv8 pada 2016. Hacktiv8 menawarkan solusi program pembelajaran intensif untuk membuat seorang pemula menjadi pengembang aplikasi web yang siap pakai, hanya dalam 12 minggu. Dalam program tersebut, peserta mempelajari JavaScript, Node.js, Vue.js, dan bahasa pemrograman React buatan Facebook’s React lewat ratusan latihan praktik.

Fokus terhadap kualitas membuat hanya sebagian kecil dari 8.000 peserta bootcamp yang berhasil mengikuti program Hacktiv8 hingga selesai. Program insentif tersebut mendorong peserta untuk menghabiskan 10—12 jam setiap hari, 5—6 hari setiap minggu, selama 12—18 minggu untuk berlatih.

Lulusan Hacktiv8 biasanya mendapatkan lebih dari satu tawaran bekerja dengan rata-rata gaji Rp 11 juta, hanya 2—3 minggu setelah menyelesaikan program. Adapun, lulusan terbaik hanya butuh beberapa hari untuk mendapatkan pekerjaan. Standar lulusan program Hacktiv8 juga diakui secara internasional melalui CIRR (Counsel on Integrity in Results Reporting), sebuah lembaga internasional yang mengaudit lulusan sekolah pemrograman. Hacktiv8 merupakan coding bootcamp pertama di Asia yang tergabung di dalamnya.

Selain itu, Hacktiv8 memiliki lebih 250 perusahaan mitra (Hiring Partner) yang siap merekrut para alumninya. Hiring Partner juga berpartisipasi dalam merancang kurikulum untuk memastikan materi yang dipelajari di Hacktiv8 tetap up to date dan relevan. Beberapa perusahaan mitra Hacktiv8 adalah perusahaan teknologi berstatus unicorn seperti Tokopedia, Gojek, dan Bukalapak. Mitra lainnya adalah perusahaan yang bergerak di bidang keuangan seperti Midtrans, Payfazz, Xendit, dan KoinWorks. Di samping itu, juga ada beberapa perusahaan besar yang memberikan beasiswa seperti CIMB Niaga, Hana Bank, dan Siloam.

Berbekal rekam jejak tersebut, Hacktiv8 berencana menggunakan modal segar yang dihimpun untuk membangun lebih banyak kelas dan mulai menawarkan program Income Share Agreement (ISA). Program ISA memungkinkan siswa membayar biaya pendidikan mereka lewat perjanjian bagi hasil atas penghasilan yang akan mereka dapat setelah lulus dan bekerja. Besaran bagi hasil dapat disesuaikan dengan pendapatan alumni di perusahaan perekrut. Siswa yang terdaftar di ISA mulai membayar setelah pendapatan mereka telah melebihi jumlah tertentu, sedangkan mereka yang berhasil meraih pendapatan lebih tinggi tidak akan membayar lebih dari batasan tertentu. Model ini membuat siswa dan sekolah memiliki tujuan yang selaras.

“Jika lulusan kami mendapat gaji yang kompetitif, kami akan mendapat pengembalian investasi yang bagus,” kata Ronald Ishak, CEO Hacktiv8.

Berdasarkan survei yang dilakukan McKinsey pada 2018, 15 dari 20 petinggi perusahaan teknologi di Indonesia kesulitan untuk mencari talenta digital lokal. Adapun, 10 dari 20 petinggi perusahaan menyatakan kesulitan mempertahankan pekerja.

Google dan Temasek memperkirakan ekonomi internet di Asia Tenggara mempekerjakan 200.000 pekerja berkeahlian pada 2025. Namun, talenta lokal yang siap pakai di Kawasan tersebut masih sangat terbatas. Saat ini, kebutuhan tersebut diisi oleh profesional berpengalaman dari industri perbankan, ritel, dan perusahaan teknologi global.

Managing Partner East Ventures Willson Cuaca mengatakan, “Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah engineer yang rendah, jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Kondisi ini bukan hanya disebabkan oleh jumlah populasi yang besar, melainkan juga karena Indonesia hanya memiliki sedikit lulusan program studi STEM [science, technology, engineering, and math],”

Untuk mengisi kebutuhan talenta yang tinggi dari ekonomi digital Indonesia, bootcamp pengembang seperti Hacktiv8 adalah solusi yang tercepat. Hacktiv8 menyelesaikan permasalahan tersebut dan bekerja bersama pelaku industri untuk penempatan kerja. Setiap gelombang lulusan Hacktiv8 diperebutkan oleh startup digital dan segera mendapatkan pekerjaan. Kami berharap agar Hacktiv8 bisa menjadi jalan keluar dari permasalahan ini dalam jangka panjang, dan kami beruntung bisa turut mengambil bagian.”

“Benar-benar solusi cerdas dalam mendapatkan para programmer baru dengan pola pikir ‘growth mindset’ di Indonesia,” ujar Moses Lo, CEO Xendit, yang juga Hiring Partner Hacktiv8.

“[Hacktiv8] bukan hanya sekedar coding bootcamp. Selain membangun kemampuan front-end dan back-end JavaScript, kamu juga diajarkan bagaimana cara menghadapi tantangan dan bekerja di dalam sebuah tim yang bergerak dengan sangat cepat. Apapun latar belakang kamu, Hacktiv8 dapat mengubah hidupmu!”, ungkap salah satu siswa di Course Report.



Sumber: BeritaSatu.com