Implementasi Sistem IDW Dorong Produktivitas dan Kinerja ASN

Implementasi Sistem IDW Dorong Produktivitas dan Kinerja ASN
Presiden Joko Widodo meninjau langsung pelaksanaan Integrated Digital Workplace di lingkungan Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, 16 Januari 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Herman )
Herman / FER Kamis, 16 Januari 2020 | 15:17 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sejak awal 2020 telah mengimplementasikan Integrated Digital Workplace (IDW).

Tingkatkan Investasi, Jokowi: Kita Harus Bangun Kepercayaan

Sistem ini diimplementasikan untuk menunjang produktivitas dan kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian PPN/Bappenas dalam pelaksanaan tugas di bidang penganggaran, perencanaan, pengendalian, pemantauan, dan juga evaluasi pembangunan.

Menteri PPN/Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengatakan, IDW ini khusus dirancang untuk memungkinkan ASN Kementerian PPN/Bappenas berperan aktif sebagai clearing house program sebagaimana arahan dari Presiden Jokowi, juga memperkuat kerja sama di antara para perencana, serta sebagai sarana knowledge sharing dan penguatan metode analisis perencanaan pembangunan, sehingga produk perencanaan pembangunan semakin berkualitas.

Kementerian PPN/Bappenas sebagai instansi pemerintah pertama yang mengimplementasikan IDW dan diharapkan dapat menjadi percontohan instansi pemerintah lainnya.

Jokowi Beri 2 Jempol Jika DPR Selesaikan Omnibus Law

"Paling tidak ada empat Kementerian dan Daerah, jadi kita akan menjadi contoh. Teruslah menjadi yang terbaik. Kita ingin membuat sejarah, salah satunya dengan Integrated Digital Workplace ini,” ujar Menteri Suharso saat menerima kunjungan Presiden Jokowi ke Kementerian PPN/Bappenas untuk meninjau langsung pelaksanaan IDW, Kamis (16/1/2020).

Dalam kunjungannya ke Bappenas, Presiden Jokowi melihat langsung bagaimana sistem IDW diimplementasikan, juga berbagai fungsi yang dapat digunakan untuk menunjang produktivitas dan kinerja ASN Kementerian PPN/Bappenas dalam pelaksanaan tugas di bidang penganggaran, perencanaan, pengendalian, pemantauan, dan evaluasi pembangunan.

Presiden Jokowi juga meninjau situation room yang merepresentasikan kegiatan Kementerian PPN/Bappenas sebagai clearing house dalam finalisasi RPJMN, prioritas wilayah, dan prioritas stunting.

Setelah itu, Presiden Jokowi juga melihat ruang co-working space yang digunakan sebagai ruang kerja mandiri, sekretariat RPJMN, ruang kerja kolaboratif, dan juga berkesempatan melakukan teleconference dengan ASN Kementerian PPN/Bappenas yang sedang tugas belajar di luar negeri.

Presiden Beri Arahan Terkini soal Persiapan Pemindahan Ibu Kota

Dijelaskan Kepala Pusat Data dan Informasi Perencanana Pembangunan Bappenas, Randy R Wrihatnolo, konsep dari Integrated Digital Workplace terdiri dari flexi-time, flexi-work, dan flexi-space. Dengan konsep ini, ASN Kementerian PPN/Bappenas tidak hanya bekerja dalam suasana formal di ruangan atau kibikel yang menyebabkan mereka tersekat-sekat dengan unit yang berbeda. Sebaliknya, konsep ini memungkinkan para ASN untuk bekerja di suatu tempat yang disebut flexi-space, misalnya di co-working space yang telah disiapkan, sehingga antar unit kerja bisa saling berdiskusi.

"Dengan konsep ini, setiap unit kerja bisa saling berdikusi. Misalnya saja terkait Ibu Kota Negara. Yang dibahas tidak hanya dari aspek infrastruktur, tetapi juga dari aspek aparatur negara, sosial, ekosistem, dan lainnya, sehingga akhirnya cara pandang mereka tidak hanya satu, tetapi dari berbagai aspek. Dengan adanya co-working space, jam kerjanya juga menjadi lebih fleksibel, tidak perlu absen,” kata Randy.

Meskipun tidak ada kewajiban untuk absen, Randy mengatakan, dalam konsep ini tetap ada semacam alat deteksi untuk memastikan pegawai ASN tetap bekerja, antara lain melalui output dari pekerjan yang dilakukan. Kemudian, pada saat membuka aplikasi juga ada keharusan untuk log in layaknya absensi.

"Konsep ini akan menjadi semacam gaya kerja baru untuk kelompok yang lahirnya di atas tahun 1980-an. Untuk urgensinya tentu ini diserahkan kepada mereka untuk menilai, bagaimana memanfaatan kesempatan ini yang sudah disiapkan. Yang kita tangkap itu gagasan bahwa teman-teman muda ini ingin kerjanya santai, tetapi hasilnya serius,” kata Raindy.

 



Sumber: BeritaSatu.com