Investasi Teknologi di Indonesia Berkembang Fenomenal

Investasi Teknologi di Indonesia Berkembang Fenomenal
John Riady. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Natasia Christy Wahyuni / JAI Rabu, 15 Januari 2020 | 00:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perkembangan pesat teknologi disadari mampu mengubah perilaku konsumen, serta memberikan keuntungan lebih bagi perusahaan. Hal itu, mendorong investasi teknologi di Indonesia berkembang fenomenal, bahkan melebihi proyeksi paling optimistis.

Pernyataan itu, disampaikan CEO PT Lippo Karawaci Tbk yang juga Presiden Komisioner PT Siloam International Hospitals Tbk, sekaligus Direktur Eksekutif di Lippo Group, John Riady, saat menjadi pembicara dalam acara Indonesia Private Equity-Venture Capital (PE-VC) Summit 2020 di Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Acara tersebut digelar oleh DealStreetAsia, yaitu platform berita online yang berfokus pada investasi, merger, dan akuisisi, private equity, venture capital, investasi perbankan, dan startup di kawasan Asia. PE-VC dihadiri lebih dari 100 delegasi dari berbagai negara termasuk Jepang, India, Korea, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Hongkong. Pembicara mencakup 41 orang antara lain dari Northstar Group, Grab, Gojek, OVO, RedDoorz, Traveloka, Bukalapak, East Venture, TaniHub, dan Kopi Kenangan.

Menurut John, melihat perkembangan pesat teknologi, Lippo Group ingin menjadi yang terdepan dalam membangun perubahan di Indonesia lewat teknologi. Lippo Grouop telah menanamkan investasi teknologi pada 2011 sebesar US$ 10.000, serta menjadi investor awal di Grab Indonesia dengan investasi senilai US$ 50.000.

“Saya menyadari teknologi memungkinkan perubahan luar biasa dalam perilaku kosumen. Perubahan didorong dan dimungkinkan lewat teknologi. Kami ingin menjadi terdepan dan pusat untuk perubahan itu,” kata John. 

Dia mengungkapkan, Lippo Group mempunyai dua fokus bisnis yaitu inti dan strategis. Bisnis inti terdiri dari real-estate (permukiman) dan kesehatan, sedangkan bisnis strategis salah satunya adalah teknologi. Menurutnya, semua bisnis itu dijalankan secara pragmatis untuk menciptakan nilai dan membangun sesuatu.

Dia mengatakan Lippo awalnya berinvestasi untuk mengembangkan e-commerce Matahari Mall, namun diakui tidak cukup sukses karena terlambat. Selanjutnya, John menyampaikan ide mendirikan perusahaan pembayaran digital yang saat ini dikenal sebagai dompet digital OVO.

“Kami beruntung menjadi yang pertama membangun itu (pembayaran digital) dan sukses,” ujar John.

John menyebut peluang semakin besar saat Grab ingin meluncurkan pembayaran digital sendiri. Akhirnya, kolaborasi Grab dan OVO telah mendorong pertumbuhan dengan transaksi-transaksi kecil. Selanjutnya, OVO juga bekerja sama dengan Tokopedia sehingga semakin memperluas ekosistem bisnis.

“Perusahaan teknologi mempunyai cara yang nyata mengubah perilaku konsumen, jadi menambah nilai dalam kehidupan kita,” kata John.

Kepala Keuangan OVO Sharly Rungkat mengatakan pembayaran digital mendorong terciptanya transparansi dan efektivitas pelaporan kepada pemerintah. Pembayaran digital juga otomatis membuat efisiensi karena tidak perlu mencetak uang.

“Saya pikir, masyarakat cashless (tanpa uang tunai) adalah evolusi penting untuk Indonesia,” ujar Sharly.

Literasi Keuangan

Di sisi lain, Sharly mengakui pembayaran digital juga bisa mendorong gaya hidup yang boros karena masyarakat seolah tidak merasa telah mengeluarkan uang. Itu sebabnya, menurutnya, penting untuk meningkatkan literasi keuangan di tengah masyarakat.

“Tidak terasa kita keluarkan uang pakai handphone. Jadi ini tanggung jawab kita (OVO) juga untuk memberikan literasi keuangan kepada orang-orang. Kalau ada uang di OVO, kita dorong untuk investasi,” ujar Sharly.

Sementara itu, Co-Founder dan Managing Partner dari Northstar Group, yaitu perusahaan ekuitas swasta berbasis di Singapura yang mengelola lebih dari US$ 2 miliar, Patrick Walujo, mengatakan kesuksesan dari bisnis startup ditopang oleh model bisnis dan karakter dari pendirinya. Hal penting lainny adalah pendiri bisnis harus mampu menemukan investor yang benar-benar bisa membantu mereka.

Pemimpin Redaksi DealStreetAsia, Joji Thomas Philip, mengatakan startup teknologi di Asia Tenggara mengalami perkembangan sangat pesat dalam satu dekade. Pada 2020, jumlah startup di Asia Tenggara jika digabungkan mencapai kurang dari US$ 100 juta, namun pada 2020, startup di Asia Tenggara mencakup 11 unicorn dan 100 perusahaan dengan taksiran lebih dari US$ 100 juta.



Sumber: Suara Pembaruan