Kemhub Hitung Ulang Tarif Ojek Online

Kemhub Hitung Ulang Tarif Ojek Online
Ilustrasi ojek dalam jaringan. ( Foto: Antara )
Thresa Sandra Desfika / YUD Selasa, 21 Januari 2020 | 18:57 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) menghitung ulang tarif ojek online sebagai tindak lanjut tuntutan mitra pengemudi karena kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan upah minimum regional (UMR).

Direktur Angkutan Jalan Kemhub Ahmad Yani mengungkapkan, pihaknya bersama stakeholders dan komunitas pengendara ojek online sudah melakukan beberapa pertemuan guna membahas tarif hingga kemitraan. Pertemuan pertama berlangsung pada 9 Januari 2020, kemudian pada 15 Januari 2020, lalu direncanakan diadakan pertemuan kembali pada Rabu (22/1/2020).

"Yang terakhir pertemuan nanti hari Jumat (24/1/2020) ada dua agenda, yakni tentang tarif pada pagi hari dan kemitraan pada sore hari," jelas Ahmad Yani di Jakarta, Selasa (21/1/2020).

Ahmad Yani menuturkan, pemerintah akan melihat kembali besaran masing-masing komponen yang menghimpun tarif ojek online. Angka komponen-komponen tersebut akan dibeberkan secara transparan kepada mitra pengemudi pada pertemuan terakhir nanti.

Adapun beberapa komponen yang mempengaruhi perhitungan tarif adalah penyusutan kendaraan, bunga modal kendaraan, biaya pengemudi (penghasilan, biaya jaket, helm, dan sepatu), asuransi (kendaraan, pengemudi, penumpang), pajak kendaraan bermotor, bahan bakar minyak, dan lain-lain.

"Jadi memang ada komponen tarif yang naik tapi ada juga yang turun. Ini harus kita simulasikan. Saya mau simulasikan di hadapan mitra pengemudi semua," terang Ahmad Yani.

Akan tetapi, Yani berujar, tarif ojol belum tentu mengalami kenaikan. Pasalnya, setelah ada perhitungan kembali secara bersama, tarif bisa tetap atau bahkan mengalami penurunan. Selain simulasi bersama dengan perwakilan mitra pengemudi, Kemenhub juga akan mengkoordinasikan hasil simulasi itu dengan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk mendapat masukan apakah besaran hasil simulasi dapat diterima masyarakat atau tidak.

"Jadi akan ada lagi pembahasan dengan teman-teman YLKI sehingga willingnes to pay masyarakat akan sangat mempengaruhi keputusan akan tarif ojol," terang Ahmad Yani.

Dia menyebutkan, keputusan akan tarif ini akan diambil pada pekan depan setelah dilakukan penajaman oleh direktur jenderal perhubungan darat dan menteri perhubungan.

"Selain itu memang ada tuntutan juga bahwa tarif ojol ini berdasarkan provinsi dan diserahkan ke daerah. Tapi kita lihat dulu kesiapan semua pihaknya bagaimana," terang Ahmad Yani.

Selain tarif, ujar Yani, sejumlah mitra pengemudi ojol juga meminta kejelasan terkait konsep kemitraannya. Sudah ada usulan yang mereka sampaikan dan akan dibahas lebih lanjut di antara kementerian dan lembaga terkait.



Sumber: BeritaSatu.com