Laba BNI Naik Tipis 2,5% Jadi Rp 15,38 Triliun

Laba BNI Naik Tipis 2,5% Jadi Rp 15,38 Triliun
Wakil Direktur Utama BNI Herry Sidharta (tengah) didampingi (kiri-kanan) Direktur Hubungan Kelembagaan BNI Adi Sulistyowati, Direktur Bisnis Korporasi Putrama Wahju Setyawan, Direktur Keuangan Ario Bimo, dan Direktur Tresuri dan Internasional Bob Tyasika Ananta berbincang saat paparan kinerja keuangan BNI Tahun 2019 di Jakarta, Rabu (22/1/2020). ( Foto: Antara )
Lona Olavia / RSAT Rabu, 22 Januari 2020 | 19:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) selama tahun 2019 membukukan laba Rp 15,38 triliun atau naik tipis 2,5% dibandingkan periode tahun sebelumnya Rp 15,02 triliun.

"Dengan kondisi likuiditas 2019 menyebabkan cost of fund naik, pertumbuhan di 2019 giro naik cukup baik, time deposit menurun, jadi kami fokus ke pembiayaan murah di mana CASA 66,6% dan 2020 jaga di 63%-66%. Jadi kami harapkan cost of fund dari 3,2% jadi 3%-3,1% dan akan berdampak ke NIM di 2020 4,9%-5%. Untuk loan growth sangat diperhatikan fundamentalnya jadi targetnya 10%-12% sehingga apabila dihitung 2020 bottom line kami double digit," kata Direktur Keuangan BNI Ario Bimo dalam paparan kinerja 2019 di Jakarta, Rabu (22/1/2020).

Laba didukung kenaikan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) Rp 36,6 triliun atau naik 3,3% dan pendapatan non bunga (fee based income/FBI) Rp 11,36 triliun atau naik 18,1%. Pertumbuhan FBI ditopang recurring fee 17,7% di mana 27,4% berasal dari aktivitas bisnis internasional melalui kantor BNI cabang luar negeri.

Kenaikan FBI dikontribusi oleh pertumbuhan pada segmen konsumer banking, yaitu komisi dari pengelolaan kartu debit yang tumbuh 39,6%, komisi pengelolaan rekening yang naik 16,3%, komisi ATM naik 13,2%, komisi bisnis kartu kredit naik 10,6%. Serta, komisi surat berharga yang naik 86,9%, komisi kredit sindikasi naik 56,8%, serta komisi trade finance naik 4,8%.

"Akumulasi NII dan FBI membawa BNI meraup laba operasional sebelum pencadangan (PPOP) sebesar Rp 28,32 triliun atau tumbuh 5%," ujarnya.



Sumber: Suara Pembaruan