Harga Minyak Turun Dipicu Perkiraan Surplus Pasokan dan Virus Tiongkok

Harga Minyak Turun Dipicu Perkiraan Surplus Pasokan dan Virus Tiongkok
Ilustrasi minyak dunia. ( Foto: vungtauoil.com )
/ WBP Kamis, 23 Januari 2020 | 09:26 WIB

New York, Beritasatu.com- Harga minyak jatuh lebih dari dua persen pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB (23/1/2020), tertekan perkiraan surplus pasokan oleh Badan Energi Internasional (IEA).

Penurunan juga didorong kekhawatiran permintaan di tengah merebaknya virus korona di Tiongkok melebihi kekhawatiran gangguan terhadap produksi minyak mentah Libia.

Minyak mentah berjangka Brent, ditutup turun US$ 1,38 atau 2,1 persen, menjadi US$ 63,21 per barel. Sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) merosot US$ 1,64 atau 2,8 persen, menjadi US$ 56,74 per barel.

Ketua IEA, Fatih Birol memperkirakan pasar akan mengalami surplus sebesar satu juta barel per hari (bph) pada paruh pertama tahun ini.

"Harga minyak tetap tertekan karena kekhawatiran kelebihan pasokan setelah Menteri Energi Saudi Harga Abdulaziz tidak menawarkan sedikit pun optimisme bahwa pengurangan produksi OPEC+ akan diperpanjang melampaui Maret," kata Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York.

Pasar juga fokus pada kemunculan virus korona baru Tiongkok tepat sebelum liburan Tahun Baru Imlek akhir pekan ini dan kemungkinan dampak pandemi terhadap pertumbuhan ekonomi global.

Kematian akibat virus mirip flu baru telah meningkat menjadi 17 dengan lebih 540 kasus dikonfirmasi, dengan kasus terdeteksi di Amerika Serikat. "Jika virus berkembang akan menenkan perjalanan serta pertumbuhan, permintaan untuk minyak bisa turun 260.000 barel per hari," kata Goldman Sachs dalam sebuah catatan.

Harga minyak telah sedikit menguat setelah National Oil Corp (NOA) Libia pada Senin (20/1/2020) yang menyatakan force majeure pada pemuatan minyak dari dua ladang minyak utama.



Sumber: Xinhua, Antara