Virus Korona Ancam Permintaan Minyak

Virus Korona Ancam Permintaan Minyak
Ilustrasi minyak dunia. ( Foto: vungtauoil.com )
/ WBP Jumat, 24 Januari 2020 | 09:20 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak jatuh sekitar dua persen pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB (24/1/2020) di tengah kekhawatiran penyebaran virus korona dari Tiongkok dapat menurunkan permintaan bahan bakar dan menghambat pertumbuhan ekonomi. Namun pelemahan harga minyak dibatasi penarikan persediaan minyak mentah AS.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret turun US$ 1,17 atau 1,9 persen menjadi US$ 62,04 per barel, setelah sempat mencapai US$ 61,25, terendah sejak awal Desember.

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret ditutup turun US$ 1,15 menjadi US$ 55,59 per barel, sempat menyentuh US$ 54,77 terendah sejak November.

Dua kota Tiongkok diisolasi pada Kamis (23/1/2020) ketika otoritas kesehatan di seluruh dunia berjuang mencegah pandemi global. Wabah virus korona telah menewaskan 18 orang dan menginfeksi hampir 630 orang.

Potensi pandemi telah membangkitkan ingatan tentang Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS) pada tahun 2002-2003, yang juga dimulai di Tiongkok.

Dengan kasus virus korona yang terdeteksi di Amerika Serikat, pasar saham global merasakan efek ketakutan bahwa virus itu dapat menyebar lebih jauh ketika jutaan orang Tiongkok bersiap-siap melakukan perjalanan untuk Tahun Baru Imlek akhir pekan ini. "Kami memperkirakan goncangan harga hingga lima dolar AS (per barel) jika krisis berkembang menjadi epidemi gaya SARS," kata JPM Commodities Research dalam sebuah catatan.

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, Amerika Serikat pada Kamis (23/1/2020) memberlakukan sanksi terkait Iran pada dua orang dan enam perusahaan, termasuk empat perusahaan yang terikat dengan Perusahaan Minyak Nasional Iran.

Mengurangi kerugian, persediaan minyak mentah AS turun 405.000 barel pekan lalu, meskipun stok bensin naik ke rekor tertinggi setelah 11 minggu berturut-turut meningkat, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan.



Sumber: Reuters, Antara