Jelang Puasa, Pengusaha Makanan Khawatir Stok Gula Menipis

Jelang Puasa, Pengusaha Makanan Khawatir Stok Gula Menipis
Pekerja melakukan bongkar muat gula rafinasi di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, 12 Maret 2018. (Foto: BeritaSatu Photo / Joanito De Saojoao)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Kamis, 30 Januari 2020 | 08:54 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman mengungkapkan, pihaknya khawatir kondisi stok gula makin menipis menjelang bulan puasa.

"Industri makanan dan minuman mendapat info dari AGRI (Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia) bahwa sementara sebagian sudah stop suplai," kata Adhi S. Lukman dalam keterangannya Kamis (30/1/2020).

Padahal, lanjutnya, sisa stok gula yang ada hanya mencukupi dua minggu ke depan. Apabila tidak ada suplai gula, industri makanan minuman (mamin) akan terdampak. "Apalagi sekarang persiapan menjelang Ramadan. Dikhawatirkan (akan) pengaruh kepada ketersediaan," tutur Adhi S. Lukman.

Seharusnya, kata Adhi, Kementerian Perdagangan (Kemdag) segera mengeluarkan izin impor gula menyusul rekomendasi dari Kementerian Perindustrian terkait hal itu."Saya lupa tepatnya (kapan rekomendasi Kemperin keluar)," kata Adhi S. Lukman.

Diketahui, Kemdag hingga kini belum mengeluarkan persetujuan impor gula kristal mentah (sugar raw). Padahal, Gappmi telah memberikan surat kepada Kemedag pada tengah bulan Januari.

Dalam surat yang berasal dari Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) dan ditembuskan kepada Gapmmi itu, disebutkan pada April 2020 akan terjadi peningkatan kebutuhan Gula Kristal Rafinasi (GKR) sebagai stok bahan baku industri makanan dan minuman.



Sumber: BeritaSatu.com