RI dan Singapura Tandatangani Kerja Sama Pajak Hingga Pendidikan

RI dan Singapura Tandatangani Kerja Sama Pajak Hingga Pendidikan
Joko Widodo. ( Foto: Antara / Puspa Perwitasari )
Lenny Tristia Tambun / WBP Selasa, 4 Februari 2020 | 15:25 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menandatangani sejumlah perjanjian kerja sama dengan Presiden Singapura Halimah Yacob setelah keduanya melakukan pertemuan bilateral di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (4/2/2020).

Jokowi mengatakan hubungan erat yang telah dibangun Indonesia dengan Singapura, bukan hanya di bidang ekonomi, tetapi juga hubungan antarmasyarakat.

“Dalam pertemuan belakang tadi kita membahas dua hal besar, yaitu kemajuan hubungan setelah pertemuan saya dengan Perdana Menteri Lee Oktober 2019 dan kerja sama investasi serta hubungan masyarakat," kata Jokowi usai meneken perjanjian kerja sama bersama Halimah.

Adapun perjanjian kerja sama yang ditandatangani adalah perjanjian persetujuan penghindaran pajak berganda (tax treaty). "Saya sangat puas dengan kemajuan kerja sama kita antara lain ditandatanganinya, yang pertama selesainya negoisasi perjanjian persetujuan penghindaran pajak berganda yang tadi telah kita saksikan dan telah ditandatangani," terang Jokowi.

Tax treaty yang dimaksud merujuk kepada persetujuan tentang penghindaran pajak dan pencegahan pengelakan pajak atas penghasilan yang diteken pada 8 Mei 1990 atau 29 tahun silam. Tax treaty ini menjadi masalah lantaran ditengarai membebaskan Singapura dari pajak bunga obligasi (withholding tax) ketika membeli obligasi terbitan pemerintah Indonesia. Hal ini kemudian dimanfaatkan pelaku pasar, termasuk pelaku pasar yang berasal dari Indonesia, guna meraup keuntungan.

Perjanjian kedua yang ditandatangani adalah kerja sama penegakkan hukum kepabeanan antara Ditjen Bea Cukai dan Singapore Police Cost Guard. Lalu, perjanjian kerja sama program pelatihan untuk sejumlah kepala daerah dari Indonesia.

"Keempat telah disepakati perpanjangan repurchase agreement pada November 2019 antara Bank Indonesia dan Monetery Authority of Singapore, dan kelima realisasi dan penguatan kerja sama dalam pelatihan industri 4.0," jelas Jokowi.

Tak hanya itu, keduanya juga membahas kerja sama di bidang investasi dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Mantan Wali Kota Solo ini mengapresiasi komitmen Singapura untuk terus bekerja sama investasi dalam proyek infrastruktur di Indonesia.

Di bidang pendidikan beberapa kerja sama yang akan didorong antara lain, penguatan kerja sama di blok 71, kolaborasi blok bisnis Indonesia dan unit bisnis salah satu universitas di Singapura.

Kedua, kerja sama pelatihan bagi pengajar dosen politeknik difasilitasi Singapore Politeknik dan Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Ketiga, kerja sama pelatihan antara Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC0 dan Singapore Internasional Foundation dan Singapura Head Services. 'Kemudian kerja sama pendidikan dan research and development antara univesitas kedua negara," papar Jokowi.

Sementara Presiden Singapura Halimah Yacob menyatakan senang berada di Indonesia. Apalagi ini adalah kunjungan pertamanya ke Indonesia. Sementara, hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura telah terjalin selama 52 tahun

“Ketika Presiden Jokowi dan saya bertemu sebelum hari ini, kami menegaskan kembali kondisi hubungan bilateral yang sangat baik dan kerja sama yang luas dan saling menguntungkan antara di bidang ekonomi, budaya, keamanan, dan masyarakat,” kata Halimah Yacob.

Selama ini, hubungan ekonomi antara Indonesia dan Singapura sudah kuat dan berkembang. Singapura telah menjadi investor asing terkemuka di Indonesia selama enam terakhir. Hal ini menunjukkan kepercayaan Singapura pada ekonomi Indonesia yang dinamis.

”Indonesia dan Singapura adalah mitra dagang utama. Singapura dan Indonesia memiliki proyek bersama yang sukses seperti kawasan industri Kendal di Semarang, yang telah menarik investasi senilai US$ 843 juta dan akan menciptakan 8.000 pekerjaan. Saya senang mendengar bahwa Kendal Industrial Park telah ditetapkan sebagai zona ekonomi khusus, yang akan membuatnya semakin menarik bagi investor,” jelas Halimah Yacob.

Ia juga senang telah ditandatangani tax treaty atau perjanjian penghindaran pajak ganda (Double Taxation Agreement/DTA). DTA yang diperbarui mengirimkan sinyal kuat bahwa kedua negara berkomitmen memperkuat kerja sama ekonomi. “Kami menantikan ratifikasi cepat dan berlakunya semua DTA yang diperbarui serta perjanjian investasi bilateral yang ditandatangani pada 2018,” papar Halimah.

Dalam pertemuan bilateral ini, Presiden Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana Jokowi, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Keuangan Sri Mulyani, dan Menteri Perdagangan Agus Supramanto.



Sumber: BeritaSatu.com