Imbas Korona, Kemperin Siapkan Substitusi Bahan Baku Impor Tiongkok

Imbas Korona, Kemperin Siapkan Substitusi Bahan Baku Impor Tiongkok
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita. ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 5 Februari 2020 | 16:25 WIB

Jakarta, Beritsatu.com - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan sekitar 30 persen impor bahan baku industri manufaktur nasional berasal dari Tiongkok. Pemerintah berupaya mengembangkan substitusi impor menyusul wabah virus korona di Negeri Tirai Bambu tersebut.

"Komponen bahan baku untuk industri manufaktur yang ada di Indonesia masih harus diimpor dari Tiongkok sebesar 30 persen, ini masih kita siapkan untuk subtitusi impornya," kata Agus Gumiwang Kartasasmita ditemui seusai menerima kunjungan Presiden Singapura Halimah Yacob di Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Agus Gumiwang mengatakan, wabah virus korona membuat industri di Tiongkok menurunkan kapasitas produksinya, bahkan barangkali ada yang tidak memproduksi. "Tentu harus ada opsi-opsi untuk mencari bahan baku bahan baku lain di luar dari Tiongkok," kata Agus Gumiwang.

Untuk jangka menengah dan panjang, kata Agus Gumiwang, merupakan sebuah opportunity apabila ada pemain baru khususnya industri dalam negeri yang ingin berinvestasi. "Itu yang saat ini sedang kita dorong agar neraca perdagangan kita semakin sehat," kata Agus Gumiwang.

Menurut Menperin, hubungan dagang Tiongkok dengan Indonesia cukup signifikan baik itu impor maupun ekspor. Produk-produk Indonesia yang diekspor ke Tiongkok juga besar, sehingga harus dikalkulasi secara tepat, dan komprehensif, kemampuan serapan produk Indonesia yang selama ini diekspor ke Tiongkok. "Kita harus mengambil asumsi bahwa kemampuan belanja masyarakat Tiongkok sendiri berkaitan dengan dampak virus korona ini menurun. Jadi ada asumsi bahwa demand, permintaan dari Tiongkok menurun," kata Menperin.

Sementara untuk ekspor Agus Gumiwang menjelaskan, Indonesia akan secara agresif mencari pasar-pasar non-konvensional lainnya, di tengah melemahnya permintaan Tiongkok. Pasar yang disasar adalah Afrika, hingga Amerika Latin. "Ini sebetulnya masih terbuka, produk-produk Indonesia diekpor ke sana," kata Menperin.

Meski demikian, dampak virus korona tidak membat Kemperin merivisi target pertumbuhan manufaktur 2020 sebesar 5,3 persen. "Kita masih sangat optimists dengan itu," kata Menperin.

Agus mengatakan Kemperin mengidentifikasi tujuh hamnbatan untuk ditanggulangi agar industri bisa terbang tinggi. Salah satunya harga gas. Harga gas industri harus kompetitif di bawah US$ 6 per mmbtu, sehingga membuat daya saing industri itu semakin baik. "Kalau salah satu dari tujuh isu ini kita selesaikan tidak ada alasan untuk merevisi target pertumbuhan manufaktur 5,3 persen tahun 2020, walaupun kita sedang menghadapi virus korona," Agus Gumiwang.



Sumber: BeritaSatu.com