TP Rachmat: Untuk Tarik Investasi, RI Harus Seperti Hotel Bintang Lima

TP Rachmat: Untuk Tarik Investasi, RI Harus Seperti Hotel Bintang Lima
TP Rachmat. ( Foto: B1/Primus Dorimulu )
Lona Olavia / WBP Rabu, 5 Februari 2020 | 16:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pembahasan RUU Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja dan Omnibus Law Perpajakan dinilai membawa angin segar bagi pelaku usaha. Omnibus Law membuat kinerja sektor riil makin menggeliat yang pada akhirnya akan berdampak terhadap perekonomian di dalam negeri.

CEO of PT Triputra Group Theodore Permadi Rachmat berharap RUU Omnibus Law bisa segera rampung di DPR. Jika lolos, Indonesia bisa menghadapi era baru yang lebih positif. "Masih ada Permen (Peraturan Menteri), PP (Peraturan Pemerintah), at least sudah ada harapan. Dasarnya sudah dipetakan, orang pun sudah punya harapan yang jauh lebih baik," ungkap Theodore Permadi Rachmat di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Omnibus Law, sambung pria yang akrab disapa TP Rachmat ini merupakan langkah pertama agar arus investasi bisa makin membanjiri Indonesia. Sejalan dengan itu, pemerintah diharapkan bisa mengemas negara ini seperti hotel bintang lima. "Kita harus bikin rumah ini (Indonesia) bintang lima, kita harus lebih ramah daripada negara tetangga. Omnibus Law step pertama. Kalau dua Omnibus Law ini beres kita senang," imbuh Theodore Permadi Rachmat.

Belajar dari Falsafah Hidup TP Rachmat

Terkait prospek perekonomian Indonesia, Theodore Permadi Rachmat optimistis akan terus bertumbuh. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bertahan di atas 5 persen sudah bagus.

"Kita tidak bisa lihat dari negara sendiri coba bandingkan negara lain. Bangladesh tumbuh 8 persen ekonominya, Vietnam 7 persen, Tiongkok 6 persen, Filipina 6 persen-7 persen, setelah itu siapa lagi. Kalaupun Indonesia nomor 6, tidak terlalu jelek. Kita juga punya makro ekonomi baik sekali. Yang kita kurang adalah kompetitif organization dan itu bisa diperbaiki dengan Omnibus Law yang sedang digodok," jelas Theodore Permadi Rachmat.

TP Rachmat: Tanpa Karakter Baik, RI Sulit Wujudkan Cita-cita Luhur

Soal tantangan perekonomian di awal tahun 2020 ini, menurutnya bisa dipandang secara positif. Misalnya saja, kasus gagal bayar yang dialami dua perusahaan asuransi BUMN, yakni PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dan PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau PT Asabri (Persero).

Menurutnya, kasus ini bisa menjadi pengalaman berharga bagi negara ini dan pengusaha lainnya agar lebih berhati-hati dalam bertindak. Dengan kasus ini, ia menilai industri asuransi ke depannya akan jauh lebih kuat, seperti halnya perbankan setelah krisis di tahun 1998.

Sedangkan, penyebaran virus Corona, diakuinya sulit untuk diduga. Namun berdasarkan pengalaman kasus-kasus wabah lainnya, ini akan bersifat sementara saja. "Tapi suatu ketika juga ada batas waktunya (Corona). Waktu SARS 2003 dalam waktu 6 bulan Tiongkok sudah bagus lagi," imbuh Theodore Permadi Rachmat.



Sumber: Suara Pembaruan