Pembangunan Industri Manufaktur Layak Didukung

Pembangunan Industri Manufaktur Layak Didukung
Marwan Jafar (Foto: Antara)
Carlos KY Paath / AO Senin, 10 Februari 2020 | 14:13 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Prioritas pembangunan industri nasional di sektor industri manufaktur sudah selayaknya didukung secara kritis dan bertahap seraya tetap menjaga keterkaitan kesinambungannya. Sebab, sektor industri manufaktur diyakini akan banyak menyerap tenaga kerja siap pakai, mampu mengundang investor, serta berkontribusi terhadap pendapatan nasional dan pertumbuhan perekonomian.

Demikian disampaikan anggota Komisi VI DPR Marwan Jafar dalam keterangannya di Jakarta, Senin (10/2/2020). Menurut Marwan, industri manufaktur pun diharapkan dapat menekan defisit neraca pembayaran dan neraca perdagangan.

"Selain bertugas mengawasi secara kritis, kami juga akan terus mendorong dan mengawal ketat sejumlah program prioritas pembangunan industri nasional yang sedang dan akan ditempuh pemerintah," kata Marwan.

Marwan menyatakan, Komisi VI juga akan fokus menyoroti aspek seberapa besar penyerapan tenaga kerja yang dapat tercapai, termasuk dalam konteks meningkatkan keahlian dan daya saing sumber daya manusia di bidang perindustrian di era millenial saat ini dan ke depan.

Marwan menuturkan, aspek transformasi sektor industri manufaktur juga diharapkan mampu menopang pembangunan wilayah-wilayah industri baru di banyak lokasi di Sumatera, Kalimantan Selatan serta sejumlah lokasi lain di Madura, Maluku Utara, Sulawesi Utara dan wilayah Papuq Barat. Selain itu, pengembangan sektor industri kecil dan menengah (IKM) juga perlu mendapat perhatian serta dilibatkan secara khusus seiring pembangunan beberapa wilayah industri baru sebagai penggerak perekonomian di daerah.

Marwan mengatakan, sesuai program prioritas Making Indonesia 4.0, infonya pemerintah fokus mengakselerasi sektor manufaktur melakukan transformasi ke arah industri 4.0 atau digitalisasi. Upaya strategis ini, lanjut mantan ketua Fraksi PKB DPR tersebut, bisa meningkatkan produktivitas secara lebih efisien sehingga mampu mendongkrak daya saing.

Karena itu, Kementerian Perindustrian harus proaktif mengajak kalangan pelaku IKM melek atau mengakrabi dunia digital, bukan hanya buat industri skala besar saja.

Marwan menambahkan, program seperti workshop e-Smart IKM yang diluncurkan sejak 2017 hingga 2019 serta diikuti sebanyak 10.038 peserta dengan total transaksi penjualan sebesar Rp3,27 Miliar wajib dilanjutkan secara lebih massif dan merata di seluruh Indonesia.

Optimalisasi industri 4.0, harus bisa mengoptimalkan potensi penambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2 persen, peningkatan kontribusi industri terhadap PDB hingga 25 persen, peningkatan net export sebesar 10 persen, dan menciptakan sebanyak 17 juta lapangan kerja baru.

"Komitmen Kementerian Perindustrian yang memproyeksikan pertumbuhan industri manufaktur mencapai angka 5,3 persen pada 2020, akan selalu kita tagih dan kawal terus," tandas mantan menteri desa pembangunan daerah tertinggal dan transmigrasi itu.



Sumber: Suara Pembaruan