Dampak Korona, Arus Penerbangan Turun 30%

Dampak Korona, Arus Penerbangan Turun 30%
Petugas dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Klas 1 Soetta melakukan pemeriksaan suhu tubuh seorang penumpang yang berasal dari Singapura setibanya di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (10/2/2020). Setelah Pemerintah resmi menaikan status Travel Warning atau kewaspadaan perjalanan ke zona kuning, petugas KKP Klas 1 Soetta melakukan pengetatan pemeriksaan suhu tubuh dan kesehatan terhadap penumpang pesawat yang berasal dari Singapura. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/foc. ( Foto: ANTARA FOTO / Muhammad Iqbal )
Thresa Sandra Desfika / FMB Kamis, 13 Februari 2020 | 14:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kementerian Perhubungan (Kemhub) menaksir penutupan sementara penerbangan dari dan ke Tiongkok serta mengakibatkan rata-rata lalu lintas penerbangan yang dilayani maskapai nasional turun mencapai 30 persen.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan, maskapai yang melayani penerbangan dari dan ke Tiongkok serta Singapura menjadi pihak yang paling merasakan dampak epidemi virus korona atau Covid-19

"Kami memang belum bisa memastikan kerugian. Yang punya masalah itu rata-rata adalah yang berhubungan dengan mainland Tiongkok dan Singapura. Tetapi, karena penerbangan ini juga ada sebagian ke Tiongkok kira-kira 30 persen, jadi berkurang rata-rata 30 persen," kata Budi Karya di Jakarta, Kamis (13/2/2020).

AP II: Dampak Korona terhadap Volume Penumpang Minimum

Budi Karya menjelaskan, guna menutupi potensi kerugian akibat penurunan lalu lintas itu, maka pemerintah menyiapkan skema insentif bagi maskapai. Insentif itu juga bakal diberikan untuk mendapatkan pengganti pasar turis Tiongkok yang biasa banyak berkunjung ke beberapa destinasi pariwisata nasional, seperti Bali, Manado, dan Kepulauan Riau.

Dia menyebutkan, contoh insentif dari pemerintah kepada maskapai, misalnya pengurangan pendapatan negara bukan pajak (PNBP). Selain itu, PT Angkasa Pura (AP) I dan AP II disiapkan untuk diskon landing fee, diskon sewa ruangan, dan sebagainya.

"Jadi, pemerintah, operator bandara, maskapai, hotel harus sama-sama memberikan insentif. Tidak mungkin pemerintah melakukan sendiri. Hal ini dilakukan untuk menggenjot sektor pariwisata. Supaya orang tetap punya keinginan untuk berlibur,” ujar Menhub.

Budi Karya menuturkan, skema insentif terus digodok dan ditargetkan pada awal pekan depan sudah diputuskan untuk kemudian disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi). "Dalam beberapa hari ini kami akan membuat suatu klarifikasi, dan akan kami usulkan ke Presiden minggu depan,” jelas Budi.

Budi menerangkan, untuk menekan potensi kerugian juga, maskapai disarankan melihat pembukaan rute-rute luar negeri selain Tiongkok.

“Untuk opportunity, yang paling masif itu di Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh. Karena memang beberapa saat sebelum kejadian ini, para duta besar itu bertemu saya untuk dapat connecting flight. Oleh karenanya saya minta kepada Garuda, Batik, Lion, Air Asia untuk mencari konektivitas ke Asia Selatan paling lambat bulan Mei ini untuk buka rute baru karena perencanaan itu tidak bisa langsung seketika,” papar Budi Karya.



Sumber: BeritaSatu.com