Pemerintah Jaga Inflasi Volatile Food 4,0±1%

Pemerintah Jaga Inflasi Volatile Food 4,0±1%
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin rapat koordinasi High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Pusat (HLM TPIP) 2020 di gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, 13 Februari 2020. ( Foto: Dok Kemko Perekonomian )
Herman / WBP Kamis, 13 Februari 2020 | 19:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Selain menjaga inflasi tetap rendah dalam kisaran sasaran 3±1 persen, pemerintah pada 2020 menargetkan untuk menjaga inflasi harga pangan bergejolak (volatile food) di kisaran 4,0±1 persen. Hal ini sebelumnya belum pernah dilakukan oleh pemerintah, mengingat inflasi volatile food sangat mudah bergejolak akibat gangguan cuaca yang sering terjadi di Indonesia.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir menyampaikan, upaya pemerintah menjaga inflasi volatile food ini dikarenakan selama ini penyumbang inflasi terbesar datang dari volatile food. Misalnya saja di 2019, inflasi sebesar 2,72 persen disumbang oleh inflasi inti 3,02 persen, inflasi administered prices 0,51 persen, sedangkan inflasi volatile food 4,30 persen.

"Penyumbang inflasi terbesar selama ini berasal dari bahan makanan yang pada umumnya adalah volatile food. Kalau kita bisa mengendalikan volatile food, kecenderungan inflasi kita relatif rendah," kata Iskandar Simorangkir usai mengikuti rapat koordinasi High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Pusat (HLM TPIP) 2020, di gedung Kemko Perekonomian, Jakarta, Kamis (13/2/2020).

Untuk menjaga inflasi volatile food dalam kisaran 4,0±1 persen, lanjut Iskandar, berbagi upaya yang dilakukan antara lain memperkuat empat pilar strategi yang mencakup keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Implementasi strategi difokuskan untuk menurunkan disparitas harga antarwaktu dan antarwilayah.

Selain itu juga menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi, terutama menjelang hari besar keagamaan nasional (HBKN). Upaya lainnya adalah memperkuat kelembagaan pertanian, disertai peningkatan kapasitas, pembiayaan, dan pengembangan ekosistem pertanian digital, termasuk sinkronisasi program dan data. Kemudian meningkatkan efektivitas program-program perlindungan sosial dan penyaluran subsidi tepat sasaran dalam rangka menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Perkuat Sinergi
Saat memimpin rapat koordinasi High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Pusat 2020, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa sinergi kebijakan yang telah ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia tahun lalu terbukti dapat menjaga inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) 2019 tetap rendah terkendali pada level 2,72 persen dan berada dalam kisaran sasaran 3,5±1 persen. “Pencapaian ini merupakan (yang) terendah selama dua dekade terakhir, dan (sekaligus) melanjutkan tren terjaganya realisasi inflasi pada kisaran sasaran selama lima tahun terakhir,” ujar Airlangga Hartarto.

Menurutnya, inflasi yang terus menurun dan terkendali dalam sasaran dipengaruhi oleh semakin terjangkarnya ekspektasi inflasi dan terjaganya kestabilan nilai tukar. Ini semua merupakan hasil penguatan koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Pembangunan infrastruktur juga terus dioptimalkan, sehingga memberikan dampak positif dalam perbaikan konektivitas dan kelancaran distribusi barang dan jasa. Inflasi yang rendah dan stabil telah mendukung momentum pertumbuhan ekonomi, di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi global yang melambat. “Hal ini berkontribusi positif dalam menjaga daya beli masyarakat, memberikan insentif bagi penanaman modal termasuk investasi, dan meningkatkan daya saing perekonomian,” terang Menko Airlangga.

Ditambahkan Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Onny Widjanarko, ke depan, pemerintah dan Bank Indonesia, baik di tingkat pusat maupun daerah, berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dalam menjaga stabilitas harga, sehingga inflasi IHK tetap terjaga dalam kisaran sasarannya 3,0±1 persen pada 2020. "Inflasi yang rendah dan stabil diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkesinambungan menuju Indonesia Maju," kata Onny Widjanarko.



Sumber: BeritaSatu.com