Tinggi, Permintaan Profesi Full Stack di Indonesia

Tinggi, Permintaan Profesi Full Stack di Indonesia
Ilustrasi profesi Full Stack Developer pada bidang digital atau IT. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Hendro D Situmorang / RSAT Rabu, 19 Februari 2020 | 12:01 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - CEO GreenHCM Bukhari Mardius memperkirakan, hingga 2030 kebutuhan tenaga teknologi informasi (TI) profesional di Indonesia mencapai 17 juta orang untuk menunjang ekonomi digital Indonesia. Salah satu profesi paling dicari di bidang ekonomi digital ialah full stack development yang bisa bekerja sebagai front-end maupun back-end developer. Meski demikian, ketersediaan full stack developer di Indonesia masih terbatas.

“Di era digital dan terbatasnya talen di bidang IT, banyak start-up yang sudah mulai mencari talen IT bahkan sebelum mereka lulus kuliah," kata Bukhari yang bergerak di perusahaan teknologi dalam bidang Human Capital Management dalam keterangannya, Rabu (19/2/2020) .

Bukhari mengungkapkan, kendala menciptakan full stack developer andal di Indonesia ialah tidak sinkronnya pelajaran yang didapat di bangku kuliah dengan realisasi dunia kerja, terutama saat mengembangkan usaha rintisan (start-up).

"Kemampuan memecahkan masalah, menghadapi tantangan, pembelajar yang cepat, dan juga mau belajar hal baru pada teknologi, itu yang dibutuhkan perusahaan start-up,” ujarnya.

Tantangan dalam mencari full stack developer ikut dirasakan Alfred Boediman, Managing Director Samsung Research Indonesia. Ia biasanya menggunakan situs khusus untuk mengawasi para software engineer yang kompeten, seperti GitHub atau Stack Overflow.

Akan tetapi Alfred mengaku tetap perlu adanya pengalaman, semangat dan pelatihan agar mereka terbiasa dengan perangkat yang digunakan dalam pekerjaan. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Pintaria, sebuah portal yang menyediakan berbagai program kuliah dan kursus/pelatihan, mengadakan program Pintaria Super30 yang memberi kesempatan beasiswa pelatihan kursus Full Stack Developer dan peluang kerja.

Nilai beasiswa yang diberikan untuk masing-masing peserta sekitar Rp 40 juta per orang. Program ini sudah diresmikan pada 10 Februari lalu di Jakarta. Dalam ajang Pintaria Super30, 60 peserta yang tersaring di seleksi awal siap berkomitmen belajar intensif Full Stack Developer secara online selama 6 bulan.

Mereka akan dibekali pelatihan hard skills maupun soft skills. Tiap bulannya ada proses eliminasi untuk menemukan 30 talenta terbaik di akhir periode. Peserta yang lulus dari program akan disalurkan bekerja sebagai Junior Full Stack Developer di perusahaan-perusahaan mitra Pintaria.

Di Pintaria Super30, Pintaria menggandeng tokoh-tokoh IT dengan pengalaman puluhan tahun sebagai Supermentor untuk mendampingi para peserta selama 6 bulan program berlangsung.

"Indonesia membutuhkan talenta muda berbakat untuk membawa dunia digital dan teknologi Indonesia semakin maju. Kini belajar full stack developer juga lebih mudah karena adanya teknologi online learning serta ajang ini," tutur On Lee yang berpengalaman lebih dari 30 tahun menjadi praktisi IT di Silicon Valley, Amerika Serikat.

Program ini dapat diikuti secara online (live session) oleh peserta yang sudah lulus dari SMA/SMK sederajat atau perguruan tinggi dengan usia minimal 18 tahun dari seluruh penjuru Indonesia. Selain mendapat kesempatan kerja, lulusan yang belum memiliki gelar sarjana akan mendapatkan beasiswa penuh kuliah S1 Teknologi Informasi atau Sistem Informasi di Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) dengan metode belajar blended learning sehingga mereka dapat kuliah sambil bekerja. Setelah satu minggu dibuka, saat ini jumlah pendaftar telah mencapai ribuan orang. Pendaftaran berlangsung sampai  23 Februari 2020 mendatang. 



Sumber: BeritaSatu.com