Moody's: Akibat Coronavirus, Rantai Pasok Global Terganggu

Moody's: Akibat Coronavirus, Rantai Pasok Global Terganggu
Petugas menyemprotkan disinfektan di Stasiun Hankou, Wuhan, Tiongkok, untuk mengatasi penyebaran virus korona. ( Foto: AFP )
Faisal Maliki Baskoro / FMB Jumat, 21 Februari 2020 | 12:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Merebaknya coronavirus berdampak negatif pada industri manufaktur Tiongkok karena banyak perusahaan yang menghentikan produksinya. Di sisi konsumsi, semakin banyak konsumen yang mengurangi belanja, makan di luar atau jalan-jalan. Pembatasan perjalanan juga mengurangi pertumbuhan sektor pariwisata, baik domestik maupun mancanegara.

Pabrik-pabrik masih menghentikan operasi sejak libur Imlek. Pabrik yang masih beroperasi menerapkan karantina sebelum karyawan mulai bekerja sehingga menghambat proses produksi. Seluruh rantai pasok global terganggu akibat penyebaran coronavirus yang telah memakan 2.236 jiwa dari 75.465 kasus.

"Dampak ekonomi coronavirus ini sangat terasa di seluruh dunia karena Tiongkok berkontribusi 20 persen terhadap produksi manufaktur global. Aktivitas transportasi dan bisnis Tiongkok terpaksa dihentikan untuk menahan laju penyebaran coronavirus," kata Katrina Ell, analis dari Moody's Analytics mengatakan dalam risetnya hari ini, Jumat (21/2/2020).

Ell juga mengatakan bahwa partner-partner dagang Tiongkok akan merasakan dampak negatif yang berbeda-beda sebagai akibat coronavirus.

Ell menambahkan bahwa pihaknya mengalami kesulitan memprediksi indeks manufaktur (Purchasing Managers Index/PMI) Tiongkok. Faktor penanganan penyebaran virus Covid-19, penutupan pabrik yang belum jelas sampai kapan, dan pembatasan transportasi membuat Moody's tidak dapat memprediksi sejauh mana sentimen manufaktur akan tergerus.

Penjualan mobil di Tiongkok sudah merasakan dampak coronavirus. Januari 2020, penjualan mobil di Tiongkok turun 18 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menurut Asosiasi Produsen Mobil Tiongkok, turunnya penjualan karena pabrik-pabrik ditutup dan permintaan konsumen turun tajam karena pembatasan perjalanan. Hingga 12 Februari, baru 59 dari 183 pabrik mobil yang sudah beroperasi kembali.

Sektor industri teknologi seperti semikonduktor, monitor layar datar, dan pembuatan smartphone dan komputer juga terdampak penghentian produksi.

Februari ini, Moody's sudah merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Tiongkok 2020 dari 6,1 persen menjadi 5,4 persen. Pertumbuhan berpotensi terkoreksi lagi hingga virus ini tertangani dan tidak ada penambahan pasien baru.



Sumber: BeritaSatu.com