Budidaya Ikan Nila, dari Pasar Tradisional hingga Diekspor

Budidaya Ikan Nila, dari Pasar Tradisional hingga Diekspor
Petugas menebarkan palet di unit pembenihan dan pembesaran Aquafarm Nusantara di Desa Wunut, Kecamatan Tulung, Klaten, Jumat, 21 Februari 2020. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Stefy Thenu / RSAT Sabtu, 22 Februari 2020 | 15:15 WIB

Klaten, Beritasatu.com - Siapa nyana jika pamor ikan nila (Oreochromis niloticus), kini melesat luar biasa, bahkan menembus pasar ekspor ke mancanegara. Padahal, di era 1980-1990-an, nila nyaris tak dikenal banyak orang. Masyarakat lebih suka dengan ikan lele, gurami, mujair atau ikan mas.

"Saya masih ingat betul. Saat itu, kita sampai bawa pickup pakai toa untuk memperkenalkan nila kepada masyarakat, sampai turun ke pasar-pasar agar masyarakat mengenal dan mau mengonsumsi nila," ujar Totok Yunianto, Community Affair PT Aquafarm Nusantara unit pembenihan dan pembesaran Wunut, Klaten, Jumat (21/2/2020).

Aquafarm Nusantara merintis usahanya di Jawa Tengah dengan melakukan beberapa kali penjajakan terhadap jenis ikan yang akan dibudidayakan. Pada mulanya usaha ini membudidayakan ikan lele, kemudian ikan mas. Namun karena minimnya permintaan pasar luar negeri, lambat laun usaha diarahkan ke bisnis ikan nila.

Rupanya, nila yang kaya protein dan omega3, belakangan justru mendapat sambutan antusias konsumen mancanegara. Di sana, posisi nila yang dikenal sebagai nile tilapia, berada di posisi kedua yang paling digemari setelah ikan salmon. Maka, permintaan nila pun melonjak drastis. Apalagi nila dari Indonesia dikenal alami dan bebas dari berbagai antibiotik.

Senior Manager External Affairs Aquafarm Nusantara Kasan Mulyono mengungkapkan, bermula dari kantor pusat di Klaten, Aquafarm yang merintis usahanya pada 1988, kini berkantor pusat di Medan Sumatera Utara.

Kasan menuturkan, awal mula berkantor pusat di Medan, karena melihat peluang perluasan usaha. Pada 1997, Aquafarm Nusantara melakukan survei ke Sumatera Utara dengan membawa 30.000 ekor benih ikan nila yang baru menetas selama tujuh hari untuk dikembangbiakkan di sana.

Hasil percobaan tersebut membuahkan hasil positif, dan wilayah kerja Aquafarm pun bertambah luas. Di Jawa saat ini, Aquafarm Nusantara berkantor di Klaten, dengan unit pembenihan di Klaten, Sleman, dan Demak, serta unit pembesaran di beberapa waduk, yaitu Gajah Mungkur (Wonogiri), Wadaslintang (Wonosobo), dan Kedung Ombo (Boyolali). Namun, karena dampak kekeringan parah tahun lalu, kegiatan di Kedung Ombo dihentikan.

Sedangkan di Sumatera Utara, Aquafarm Nusantara beroperasi di tiga lokasi. Kantor pusat terdapat di Medan, sementara pembenihan, pabrik pakan, dan pengolahan berlokasi di Serdang Bedagai. Pembesaran, yang juga dikenal dengan istilah growout, dilakukan di kawasan Danau Toba.

Di Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, Aquafarm memiliki 240 petak keramba jaring apung untuk budidaya ikan nila. "Saat ini, terdapat sedikitnya 1 juta ekor nila merah dan hitam setara 670 ton yang hidup di 240 petak keramba," ujar Burnawan, Site Manager Aquafarm unit pembesaran WGM.

Dari mulai benih hingga panen, kata Burnawan, membutuhkan waktu 6-7 bulan. Standar berat ikan siap panen yang ditetapkan 900 gram. Setiap hari, dari Wonogiri, memasok rata-rata enam truk seminggu ke unit pengolahan di Semarang. Tiap truk berkapasitas 1,8 ton nila hidup. Hingga, akhir tahun lalu, produksi panen nila Aquafarm di Jawa Tengah tercatat 5.000 ton.

Kasan menambahkan, Aquafarm Nusantara memiliki rantai usaha yang terintegrasi dari hulu sampai ke hilir. Di Sumatera Utara, pembenihan dilakukan di Serdang Bedagai.

Setelah proses pembenihan, ikan dibesarkan di keramba jaring apung di Danau Toba hingga berumur 9 bulan. Setelah itu, ikan dibawa dalam tanki air dengan truk-truk yang menggunakan tabung oksigen khusus ke unit pengolahan.

Pakan yang digunakan juga merupakan pakan apung yang dibuat khusus untuk ikan nila. Tujuan utama penggunaan pakan apung ini adalah untuk memastikan agar pakan tersebut dimakan oleh ikan dan tidak tenggelam dan tidak mengotori dasar danau.

Ikan nila yang telah berusia 9 bulan dibawa kembali ke Serdang Bedagai, langsung ke pabrik pengolahan untuk diolah menjadi filet oleh para pekerja yang terampil.

Meskipun terlihat sederhana, mengolah ikan menjadi filet tidaklah mudah, sehingga keterampilan karyawan sangat diutamakan. Apabila ikan dipotong dengan tergesa-gesa, maka filet akan menjadi terlalu kecil sehingga produk yang dihasilkan tidak sesuai dengan standar perusahaan.

Selain itu keselamatan sangat diutamakan, karena apabila melakukan kesalahan ketika memegang pisau, dapat mengakibatkan jari terluka. Proses pengolahan ikan, dari tahap pembersihan hingga ikan siap dibekukan, berlangsung sekitar 45 menit. Proses ini akan menghasilkan ikan dengan tingkat kesegaran yang tinggi tanpa bau amis.

Dari pabrik pengolahannya, sebagian besar ikan diekspor melalui pelabuhan Belawan ke mancanegara, terutama ke Amerika Serikat dan Eropa. Sebagian kecil juga diekspor ke Singapura, Taiwan, dan Kanada.

Di samping daging ikan, kulit dan sisik ikan dapat dimanfaatkan untuk bahan kosmetik, kepala dan dagingnya dimanfaatkan untuk makanan, sementara organ tubuh lainnya dimanfaatkan untuk keperluan produksi biofuel di pabrik pakan.

Dari jumlah sumber daya manusia yang relatif terbatas, seiring berjalannya waktu, Aquafarm Nusantara kini telah mempekerjakan lebih dari 600 karyawan di Jawa dan sekitar 4,000 karyawan di Sumatera Utara, yang mayoritas adalah masyarakat di sekitar lokasi perusahaan.

Tilapia produksi Aquafarm Nusantara kini merupakan 6 besar produk ekspor Perikanan Jateng pada 2019 lalu. Produksi ikan Jawa Tengah tahun lalu mencapai 1.535 ton bernilai Rp 103 miliar.

Presiden Komisaris PT Aquafarm Nusantara Sammy Hamzah mengatakan, perusahaanya terus mencari cara untuk meningkatkanproduksi secara efisien.

Pada 2019, Aquafarm telah mengekspor 1.600 ton Naturally Better Tilapia ke Amerika Serikat, Eropa, Australia dan Kanada, dan juga melakukan penjualan di dalam negeri sebanyak 3.381 ton.

“Sebagai perusahaan penanaman modal asing dari Swiss, kami memberikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia atas dukungan dan bimbingan terhadap usaha kami. Dengan rezim peraturan yang lebih ramah terhadap investasi dan dunia usaha yang saat ini digalakkan oleh Bapak Presiden Jokowi, kami yakin bisa menumbuhkan usaha kami dan meningkatkan kontribusi ekonomi bagi pemerintah dan rakyat Indonesia,” tandas Sammy.



Sumber: BeritaSatu.com