Dampak Korona, Bahan Baku Industri Menipis

Dampak Korona, Bahan Baku Industri Menipis
Rosan P Roeslani. ( Foto: Antara )
Herman / FER Rabu, 26 Februari 2020 | 18:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), Rosan Roeslani, menilai pemerintah perlu merevisi target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan sebesar 5,3 persen. Pasalnya wabah virus korona di Tiongkok telah memengaruhi perekonomian banyak negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Apalagi Tiongkok merupakan mitra dagang utama Indonesia.

"Saya rasa (target pertumbuhan ekonomi) memang perlu direvisi. Kita lihat saja Tiongkok sebagai partner dagang utama kita sudah merevisi target, begitu juga dengan negara lain. Penurunan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok 1 persen itu bisa menurunkan ekonomi kita sampai 0,3 persen. Sedangkan Tiongkok akibat wabah virus korona ini diprediksi bisa turun antara 1 persen sampai 1,5 persen, sehingga bisa jadi ekonomi kita hanya tumbuh antara 4,5 persen sampai 4,7 persen" kata Rosan Roeslani saat ditemui di gedung DPR, Jakarta, Rabu 926/2/2020).

Selain industri pariwisata, menurut Rosan, yang paling terdampak dari wabah korona adalah industri manufaktur. Pasalnya bahan baku industri banyak berasal dari Indonesia. Sedangkan saat ini Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku yang diimpor tersebut.

“Bahan baku kita, utamanya industri makanan dan minuman hampir sebagian besar berasal dari Tiongkok, sementara di sana sudah shut down sejak Januari. Teman-teman di industri juga sudah bilang, bahan baku yang mereka punya hanya cukup sampai tiga minggu ke depan, tidak sampai sebulan,” kata Rosan.

Agar produksi industri dalam negeri tidak terganggu akibat suplai bahan baku dari Tiongkok yang terhenti, Rosan mengatakan saat ini Kadin bersama Pemerintah sedang berdiskusi untuk mencari alternatif pengganti bahan baku tersebut.

“Untuk mencari bahan baku ini kan tidak mudah. Kita sudah berusaha mencari di pasar lain, misalnya yang dekat-dekat di Asean atau negaara lain, sehingga produksinya tidak terputus. Karena kalau untuk mengandalkan bahan baku dari dalam negeri belum bisa,” tuturnya.

Rosan juga berharap pemerintah dapat memberikan insentif pada seluruh industri yang terdampak virus korona, tidak hanya industri pariwisata. Selain itu, daya beli masyarakat menurutnya harus terus dijaga agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terlalu terpengaruh wabah korona.

“Konsumsi kan menyumbang sekitar 56 persen terhadap PDB, jadi ini harus tetap dijaga. Pemberian insentif fiskal salah satunya juga untuk menjaga daya beli masyarakat,” kata Rosan.



Sumber: BeritaSatu.com