Indonesia Digital Economy Summit 2020, Jokowi: Indonesia Harus Terdepan

Indonesia Digital Economy Summit 2020, Jokowi: Indonesia Harus Terdepan
Joko Widodo. ( Foto: Antara )
Novy Lumanauw / CAH Kamis, 27 Februari 2020 | 13:22 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan Indonesia harus berada di barisan terdepan dalam kemajuan ekonomi digital. Saat ini, Indonesia telah merasakan berkah dari ekonomi digital, di antaranya yang bersumber dari platform digital marketplace konvensional.

"Siapa sangka masyarakat kita mampu melihat celah dari berbagai kanal media dan komunikasi digital yang kita miliki. Coba lihat Facebook kita, Twitter kita, Instagram kita, atau WA (Whatsapp) group kita, saya yakin dan saya lihat banyak lapak-lapak penjual yang berseliweran di situ banyak sekali, yang menawarkan berbagai produk kebutuhan sehari-hari," kata Presiden Jokowi saat menjadi pembicara kunci pada Indonesia Digital Economy Summit 2020 di The Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (27/2).

Ia mengatakan, pada kanal-kanal media itu terdapat banyak toko yang berjualan pakaian, makanan, obat peninggi badan, dan krim pemutih kulit.

"Saya kadang-kadang lihat, “ini apa”, tapi inilah sebuah kreativitas. Bahkan di Instagram saya sendiri banyak yang menawarkan obat penggemuk badan, ini apa. Saya pikir, ini laku atau tidak, tapi karena marketing-nya begitu gencar pasti itu barang laku, meskipun benar atau enggak benar saya enggak tahu. Ini adalah sebuah kreativitas yang luar biasa. Mungkin tidak banyak masyarakat negara lain yang cara-cara berjualan di pasar-pasar digital seperti kita di Indonesia," kata Presiden Jokowi.

Menurut Kepala Negara, sampai saat ini Indonesia merupakan negara dengan nilai ekonomi digital terbesar di kawasan ASEAN dan dengan pertumbuhan yang paling cepat.

"Coba kita lihat, pada tahun 2015 nilai ekonominya US$ 8 miliar. Jumlah US$ 8 miliar ini kalau dirupiahkan berapa triliun ? Kira-kira Rp 120-an triliun ya. Kemudian pada tahun 2019, US$ 40 miliar, US$ 40 miliar berarti Rp560 triliun. Dan, diprediksi di tahun 2025, kita akan memiliki USD133 miliar," kata Kepala Negara.

Selain itu, lanjut Jokowi, Indonesia juga tercatat memiliki ekosistem startup yang paling aktif di Asia Tenggara, nomor lima di dunia, setelah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada.

"Kita nomor lima. Ini supaya dimengerti betul, kita nomor lima setelah Amerika Serikat, India, Inggris, dan Kanada. Dan, kita memiliki 2.193 startup, ada 1 decacorn, ada 4 unicorn, dan salah satunya saya jadikan menteri founder-nya. Ini ada di sini. Tapi itu juga belum cukup," ujar Kepala Negara.

Namun, kata dia, Indonesia masih memiliki potensial pasar digital yang sangat besar. Penduduk Indonesia yang mencapai 267 juta jiwa merupakan pasar yang sangat besar.

Di hadapan CEO Microsoft Satya Nadella serta para pelaku startup, technopreneur, dan pengembang aplikasi dari berbagai daerah di Tanah Air, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa dari segi penetrasi pasar internet, pada tahun 2019 di Indonesia mencapai 65 persen atau naik 10 persen dibandingkan tahun 2018 yang 55 persen.

"Besar sekali, hati-hati besar sekali. Pada tahun 2018, informasi yang saya dapat juga, ada 171 juta pengguna internet di Indonesia, 171 juta pengguna internet di Indonesia. Internet user 171 juta, betul-betul sebuah pertumbuhan yang sangat pesat sekali, sekali sangat cepat sekali. Oleh sebab itu, potensi seperti ini harus kita manfaatkan," katanya.

Hadir pula Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri BUMN Erick Thohir, Menkominfo Johnny G Plate, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim



Sumber: BeritaSatu.com