Fenomena Panic Buying karena Corona Timbulkan Kerugian Keuangan

Fenomena Panic Buying karena Corona Timbulkan Kerugian Keuangan
Sejumlah warga membeli masker dan cairan pembersih tangan di Pasar Pramuka, Jakarta, Senin, 2 Maret 2020. ( Foto: Suara Pembaruan / Joanito De Saojoao )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Kamis, 5 Maret 2020 | 18:21 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Masuknya Indonesia dalam peta sebaran virus corona Covid-19 juga menambah daftar jumlah negara yang terdampak di dunia. Per Selasa, 3 Maret 2020, total 66 negara telah terdampak virus corona. Hal ini menimbulkan terjadinya fenomena panic buying atau membeli barang dalam jumlah besar sebagai antisipasi masyarakat saat wabah atau bencana berlangsung.

Terbukti dari melonjaknya aktivitas pembelian di sejumlah retail terutama untuk produk seperti hand sanitizer, masker, obat-obatan dan multivitamin hingga berbagai makanan pokok yang juga diikuti kenaikan harga barang-barang tersebut.

Alexander Adrianto Tjahyadi, Audit & Assurance Partner Grant Thornton Indonesia mengungkapkan fenomena panic buying ini dapat menimbulkan kerugian secara keuangan tidak hanya secara personal namun juga secara luas. "Kami menyarankan untuk menahan diri dan membeli barang dalam jumlah sewajarnya, kita semua berharap virus corona dapat ditangani dengan baik di Indonesia," ujar Alexander Adrianto dalam keterangannya, Kamis (5/3/2020). 

Merespons fenomena ini, Grant Thornton Indonesia menjabarkan setidaknya 3 (tiga) kerugian dari panic buying. Pertama akan meningkatkan inflasi.

Aktivitas pembelian yang berlebihan tentu akan berpengaruh kepada perekonomian, fenomena panic buying oleh masyarakat akan memicu kelangkaan berbagai produk dan berdampak pada kenaikan harga barang tersebut yang dapat menyebabkan kenaikan inflasi yang akan mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia. Aksi panic buying yang hanya beberapa bulan sebelum Idul Fitri akan menyebabkan kenaikan inflasi yang lebih awal dan lebih lama.

Kedua akan mengganggu keuangan rumah tangga. Saat kita merasa terancam, secara psikologis dapat berakibat pada berkurangnya proses berpikir rasional dan lebih mudah terpengaruh dengan pola pikir kelompok. Secara tidak sadar hal tersebut akan berdampak pada keuangan rumah tangga, karena pembelian impulsif bisa saja menyedot dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan reguler penting lainnya seperti uang sekolah anak atau cicilan rumah. Belum lagi jika pembelian dilakukan menggunakan fasilitas kredit seperti misalnya kartu kredit, terjadi beban hutang konsumsi.

Ketiga menurut Grant Thornton akan menjadi pemborosan. Pembelian berdasarkan panic buying tersebut dapat dikategorikan sebagai salah satu tindak pemborosan karena akan cukup sulit untuk menghabiskan bahan makanan tadi sebelum masa kedaluwarsanya. Misalnya, beras mungkin berkutu dan rusak apabila disimpan terlalu lama.

"Melihat potensi kerugian yang akan diakibatkan tentu akan lebih bijak untuk menahan diri dan bersikap sewajarnya dalam menanggapi isu virus corona ini," tambah Alexander.



Sumber: BeritaSatu.com