Terkait Virus Corona, PMI di Korsel Tak Di-PHK

Terkait Virus Corona, PMI di Korsel Tak Di-PHK
Eva Trisiana. ( Foto: beritasatu.com / Edi Hardum )
Siprianus Edi Hardum / EHD Minggu, 8 Maret 2020 | 20:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Korea Selatan (Korsel) merupakan salah satu negara penempatan pekerja migran Indonesia (PMI) formal. Sampai saat ini, jumlah PMI di Korsel sebanyak 34.400 orang.

Ketika virus corona “memasuki” negara itu, banyak perusahaan tutup sementara dan pekerja dirumahkan, tidak terkecuali PMI. “Namun, semua pekerja yang dirumahkan tetap mendapat gaji,” kata Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Luar Negeri (PTKLN) Ditjen Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja, Kemnaker, Eva Trisiana, kepada Beritasatu.com, Minggu (8/3/2020) malam.

Eva mengatakan, sampai saat ini tidak ada PMI yang terkena pemutusan hubungan kerja. “Untuk PMI kita di Korsel sampai saat ini saya tidak terinfo kalau ada PHK. Hanya memang beberapa pabrik ada yang mengeluarkan kebijakan secara mandiri untuk melakukan karantina terhadap karyawannya atau tidak mengizinkan sementara karyawannya keluar lokasi/kawasan perusahaan,” kata Eva.

Korsel menjadi salah satu negara dengan kasus corona yang cukup banyak. Namun minat calon PMI untuk bekerja di Negeri Ginseng itu masih tinggi.

Hal itu terlihat dari jumlah pendaftar calon PMI yang dibuka untuk pemberangkatan tahun depan ke Korsel. Di lokasi verifikasi pendaftaran yang dipusatkan di Semarang awal Maret 2020, ada 17.000 pendaftar yang dibagi delapan gelombang di kawasan Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Semarang (Unnes).

Salah satu pendaftar, Eko Waluyo (20) asal Cilacap, sebagai dalam keterangan tertulis dari Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Jateng, mengatakan dirinya sudah bertekad kerja di Korsel karena keluarganya ada yang sudah sukses setelah kerja di sana. Ia pun tidak takut dengan isu virus corona di sana.

"Ya tidak takut. Itu kan ibarat musibah, berdoa saja yang penting. Ingin ke sana katanya gajinya besar, keluarga ada yang dari sana," kata dia.

Kepala BP3TKI Jateng, AB Rahman, mengatakan, Korsel menjadi negara paling diminati oleh para calon PMI. Dengan adanya isu corona, tidak berdampak pada penurunan jumlah peminat, bahkan bertambah meski kuotanya makin sedikit.

"Jumlah pendaftarnya 24.000 orang, yang akan diproses 3.300 orang. Saya lihat tidak menurun jumlah pendaftarnya walau ada corona. Menarik ini, daya dorongnya ya ada harapan besar di sana untuk perbaiki nasib," kata Rahman.

Jika daerah tujuan memiliki kasus virus corona, lanjut Rahman, para calon TKI memang tidak terpengaruh jumlahnya, namun ketika ada kasus corona di Indonesia, Rahman mengaku khawatir jika ada pembatasan jumlah TKI.



Sumber: BeritaSatu.com