Dampak Corona, Penerbangan di Bandara Soetta Turun 9%

Dampak Corona, Penerbangan di Bandara Soetta Turun 9%
Petugas Avsec berjaga di depan pintu masuk Terminal 1 B Keberangkatan Bandara Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang, Banten, 12 Februari 2019. PT. Angkasa Pura II selaku pengelola bandara Soetta membenarkan adanya penurunan penumpang pesawat akibat tingginya harga tiket pesawat. (Foto: Antara / Muhammad Iqbal)
Lenny Tristia Tambun / CAH Senin, 9 Maret 2020 | 14:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin mengatakan ada kebijakan pemberhentian penerbangan dan pelarangan masuk warga negara asing (WNA) dari tiga negara dan daratan Tiongkok telah mengakibatkan penurunan pergerakan pesawat dan penumpang hingga sembilan persen. Kebijakan ini diberlakukan untuk mencegah penyebarluasan virus corona di Indonesia.

Dijelaskannya, setidaknya ada empat kebijakan pemberhentian penerbangan dan pelarangan masuk WNA ke Indonesia. Pertama pada 22 Januari 2020. Saat itu, Kota Wudah sudah ditutup oleh pemerintah Tiongkok akibat menjadi asal merebaknya virus corona atau Covid-19, sehingga penerbangan dari dan ke Tiongkok pun sudah mulai dibatasi.

“Kedua, pada 5 Februari 2020, mulai pukul 00.00, kita melakukan pemberhentian semetara operasi penerbagan dari dan ke daratan Tiongkok,” kata Muhammad Awaluddin dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (9/3/2020).

Ketiga, pada 27 Februari 2020, saat pemerintah Arab Saudi menghentikan sementara kedatangan WNA yang ingin menjalankan umrah maupun perjalanan wisata ke negaranya.

Dan keempat, baru saja diberlakukan terhitung 8 Maret 2020, untuk penghentian sementara penerbangan dari dan ke 10 wilayah di tiga negara, yakni Italia, Korea Selatan dan Iran.

“Keempat kebijakan ini masih diberlakukan hingga sekarang. Proses penerapan kebijakan ini masih teruus berjalan,” ujar Muhammad Awaladdin.

Sehingga, lanjutnya, terdapat dampak terhadap pergerakan pesawat dan penumpang yang ada di Bandara Soekarno Hatta. Bila pada bulan Januari 2020, situasi penerbangan masih sangat normal. Bahkan mengalami pertumbuhan, baik di pergerakan pesawat tumbuh tiga persen maupun pergerakan penumpang yang tumbuh sekitar tujuh persen.

Situasi terlihat berbeda di bulan Februari dan Maret 2020. Pergerakan pesawat di bulan Februari 2020 mengalami penurunan sebanyak enam persen dan pergerakan penumpang turun sekitar empat hingga lima persen.

Kemudian, di bulan Maret 2020, ia memperkirakan penurunan pergerakan penumpang dan pesawat di Bandara Soekarno-Hatta akan mencapai sembilan persen.

“Kalau kita lihat, di Maret 2020, yang mendapatkan dampak cukup besar. Sampai kemungkinan total jumlah penerbangan yang terdampak dengan empat kebijakan itu mencapai 1.110 penerbangan. Kondisi ini menimbulkan dampak cukup signifikan terhadap penurunan pergerakan pesawat dan penumpang Internasional di Maret mengalami penurunan sekitar sembilan persen,” terang Muhammad Awaluddin.

Untuk gambaran umum, dijelaskannya, sebagai bandara terbesar di Indonesia, komposisi penerbangan di Bandara Soekarno-hatta terdiri dari 75 penerbangan domestik dan 25 persen penerbangan internasional.

Dengan jumlah pergerakan penumpang sekitar 200 ribu per hari dan pergerakan pesawat sebanyak 1.200 per hari.

“Jadi kalau kita lihat angka yang turun ini signifikan. Kejadian ini berdampak pada jumlah pergerakan pesawat mapun penumpang sendiri,” tukasnya.



Sumber: BeritaSatu.com