Indef Nilai Stimulus Pemerintah Tidak Akan Efektif

Indef Nilai Stimulus Pemerintah Tidak Akan Efektif
Ilustrasi rupiah. ( Foto: Antara / M Risyal Hidayat )
Herman / FER Minggu, 15 Maret 2020 | 23:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Ariyo D P Irhamna, menyampaikan, berdasarkan tren penyebaran virus corona atau covid-19 di Indonesia, stimulus yang diumumkan pemerintah dinilai tidak akan efektif.

Pasalnya, dalam paket insentif tersebut pemerintah hanya mencoba untuk mengurangi dampak ekonomi dari covid-19. Padahal, insentif harus diarahkan untuk mengatasi inti masalah, yakni penyebaran covid-19.

Baca: Pemerintah Alokasikan Rp 158,2 T Untuk Stimulus

"Jika pemerintah hanya memprioritaskan dampak ekonomi, bukan mengatasi penyebaran covid-19, hal tersebut akan sia-sia. Sebab, covid-19 dapat menjangkit siapa saja, tanpa mengenal kondisi kesehatan, status, dan lainnya,” kata Ariyo dalam diskusi online yang digelar Indef di Jakarta, Minggu (15/3/2020).

Ariyo memaparkan, covid-19 kini sudah menjangkit beberapa olahragawan profesional dunia dan pejabat di berbagai negara, salah satunya Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi. Artinya, siapapun bisa terjangkit covid-19.

Oleh karena itu, menurut Ariyo, kebijakan stimulus atau insentif yang dikeluarkan harus mendorong pengurangan penyebaran covid-19, serta peningkatan imunitas. "Misalnya, pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh, atau pemberian hand sanitizer kepada masyarakat secara gratis," paparnya.

Baca: Dampak Corona, 63 Kampus Terapkan Pembelajaran Daring

Dalam kebijakan investasi, lanjut Ariyo, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) misalnya dapat mewajibkan investor existing untuk melakukan disinfektan pabrik, kantor atau lokasi investasi setiap hari, pengecekan kesehatan (temperature check) berkala kepada karyawan dan staf, menyediakan hand sanitizer di semua pintu masuk gedung dan ruangan kantor, dan rotasi penugasan karyawan yang bekerja di kantor, serta menunda kegiatan aktivitas keramaian seperti outing, serta social distancing.

"BKPM dan Kementrian Ketenagakerjaan juga perlu menyusun pola komunikasi digital dari existing investor kepada pemerintah terkait karyawan yang positif atau suspected covid-19. Untuk promosi investasi, BKPM harus memprioritaskan investasi sektor farmasi dan alat-alat kesehatan, serta menggunakan video conference dalam melakukan business meeting, sehingga penyebaran covid-19 dapat dikendalikan dan aktivitas ekonomi segera pulih kembali," papar Ariyo.

Peneliti Indef lainnya, Ahmad Heri Firdaus menilai, stimulus yang diberikan pemerintah dalam merespon penyebaran covid-19 masih kurang lengkap. Sebab, hanya terkesan meringankan beban (pajak) dan upaya non fiskal seperti kemudahan prosedur dan administrasi ekspor-impor, namun tidak mendorong bagaimana Indonesia dapat memanfaatkan peluang yang ada.

Baca: Ini Detail 4 Stimulus Pemerintah Untuk Dongkrak Ekonomi

"Sebenarnya di tengah penurunan ekspor dan kinerja industri yang sulit, potensi peluang terbesar adalah di pasar dalam negeri. Bagaimana pemerintah harusnya dapat memberikan kesempatan kepada industri untuk meningkatkan market share-nya di pasar dalam negeri karena potensi dalam negeri kita sangat besar," jelasnya.

"Ini momentum yang tepat untuk memperkuat struktur industri, membangun industri bahan baku, memperbaiki supply chain di dalam negeri dan mengamankan pasar dalam negeri dari serbuan impor barang konsumsi," kata Heri.

 



Sumber: BeritaSatu.com