Lima Inovasi Pertamina EP Dapat Hak Paten

Lima Inovasi Pertamina EP Dapat Hak Paten
Ilustrasi kilang ( Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Senin, 16 Maret 2020 | 20:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Pertamina EP (PEP) mencatatkan value creation yang terdiri efisiensi (cost saving) dan penambahan pendapatan dari kreativitas dan inovasi pekerja selama tiga tahun terakhir mencapai US$ 566 juta (Rp 7,8 triliun). Dari 1.602 inovasi yang dihasilkan pekerja Pertamina EP (PEP) dalam 2017-2019, sebanyak 98 inovasi telah direplikasi, bahkan lima inovasi dipatenkan di Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemkumham).

"Ada lima inovasi pekerja PEP yang telah mendapatkan hak paten di Kemkumham," kata Direktur Operasi dan Produksi PT Pertamina EP Chalid Said Salim dalam sebuah kesempatan di Yogyakarta.

Adapun kelima inovasi itu PC Prove Work Over Well Services (WOWS) PEP Asset 3 Jatibarang Field di Indramayu, Jawa Barat berupa Tubing Test Plug, PC Prove Gitu Gitu Aja dari PEP Asset 1 Jambi Field di Jambi berupa alat penyangga perekam data elektronik untuk mengukur tekanan bawah sumur, dan IP Centribike dari PEP Asset 5 Sangasanga Field di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur berupa alat analisis kadar air sumur minyak portable. Kemudian RT Prove SPE dari PEP Asset 4 Tanjung Field di Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan berupa rumahan alat pengukur tekanan pada sumur minyak dan PC Prove Super Cyclone dari PEP Asset 5 Tarakan Field di Kota Tarakan, Kalimantan Utara berupa alat pemisah pasir pada sumur produksi minyak.

Berkat dukungan inovasi tersebut, produksi dalam tiga tahun terakhir meningkat. Pada 2017 produksi minyak 77.154 barel per hari (BOPD), naik menjadi 82.213 BOPD di 2019.

Guru Besar Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung, Tutuka Ariadji mengatakan inovasi pekerja PEP yang dipatenkan akan memotivasi institusi dan pekerja mengembangkan lebih jauh bentuk inovasi.  Menurut Tutuka, inovasi berpengaruh terhadap kenaikan produksi, peningkatan pendapatan, dan penghematan anggaran. “Alat-alat tersebut merupakan bagian surveilllance (monitoring) parameter penting dalam pemroduksian minyak. Surveilance adalah kunci keberhasilan dalam manajemen reservoar,” ujarnya.

Ketua Divisi Opini dan Kajian Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia, Beny Lubiantara, mengatakan inovasi sejatinya keharusan. Apalagi di era harga minyak rendah, terobosan melalui inovasi diharapkan menjadikan proses menjadi lebih simpel dan efektif, serta optimalisasi produksi.

Menurut dia, karya cipta inovasi paling sederhana pun perlu dipatenkan. Hal ini lazim dalam praktik di industri hulu migas di mancanegara. Inovasi seperti lima paten yang didukung oleh manajemen PEP ini akan semakin memicu semangat kolega di lapangan untuk berpikir dan menemukan ide-ide dan inovasi baru mengantisipasi tantangan yang dihadapi di lapangan yang memang semakin kompleks.

Founder Refor Miner Institute, Pri Agung Rakhmanto, menambahkan efisiensi dan inovasi adalah proses terus-menerus. Hal ini sangat positif untuk meningkatankan produksi. “Namun, ini perlu dibarengi dengan standarisasi di dalam sistem pengadaan,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com