Imbas Corona, Kadin Usulkan Insentif Usaha Transportasi

Imbas Corona, Kadin Usulkan Insentif Usaha Transportasi
Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Carmelita Hartoto. (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Thresa Sandra Desfika / FER Selasa, 17 Maret 2020 | 17:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Perhubungan mengungkapkan dunia transportasi nasional butuh insentif karena terpukul pandemi virus corona atau covid-19.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perhubungan, Carmelita Hartoto, mengaku prihatin dengan kondisi Indonesia seiring terjadinya pandemi virus corona dan berharap masa sulit ini dapat segera berakhir.

Baca: Dampak Corona, Bahan Baku Industri Menipis

"Untuk itu, serangan virus corona di dunia usaha harus dihadapi dengan solidaritas yang kuat di antara sesama. Kesehatan masyarakat harus menjadi prioritas kita saat ini. Tapi tentunya setelah itu, kita perlu mencari cara agar geliat bisnis tetap dapat berjalan positif di masa mendatang," kata Carmelita dalam keterangan persnya, Selasa (17/3/2020).

Secara umum, kata Carmelita, kondisi seperti saat ini telah memukul dunia usaha dan memukul segi investasi di sektor transportasi karena terjadinya penurunan volume muatan barang dan orang baik di transportasi udara, laut, maupun darat.

"Pukulan ini akan cukup terasa hingga beberapa waktu ke depan. Untuk itu, pelaku usaha meminta adanya insentif untuk menstimulus geliat bisnis kembali," kata Carmelita.

Baca: INSA Minta Optimalisasi Tol Laut Libatkan Semua Pihak

Di sektor transportasi darat, ujar Carmelita, insentif itu bisa diberikan dalam bentuk fiskal, menunda pemungutan pajak selama 6 bulan, yang mencakup pemberian fasilitas PPh 21 ditanggung pemerintah (DTP), relaksasi pembebasan PPh 22 impor, pengurangan PPh 25, relaksasi restitusi PPN dipercepat. Insentif lainnya dapat pula berupa penangguhan pajak bahan bakar untuk operasional angkutan.

Selain itu, dibutuhkan juga dukungan perbankan dengan memberikan bunga yang kompetitif dan tenor panjang, juga relaksasi kredit terhadap pinjaman alat-alat produksi utama.

Sementara pada sektor pelayaran, ungkap Carmelita, juga dibutuhkan insentif seperti, reschedule pembayaran pinjaman bank, discount rate pinjaman yang rendah dan pemberian grace period pembayaran pinjaman, penghapusan pajak atas BBM, dan juga harga BBM yang kompetitif dengan suplai yang stabil.

Baca: Pelindo I Resmi Jadi Anggota Kadin

"Demikian pula di pelabuhan diharapkan ada diskon biaya pelabuhan dan handling peti kemas. Hendaknya semua stakeholders bergandengan tangan pada saat ini untuk efisiensi," pungkas Carmelita.



Sumber: BeritaSatu.com