Walau Terpuruk, Peluang Industri Otomotif Tetap Ada

Walau Terpuruk, Peluang Industri Otomotif Tetap Ada
Pabrik mobil Astra Daihatsu di Karawang, Jawa Barat. (Foto: Istimewa)
Yuliantino Situmorang / YS Minggu, 22 Maret 2020 | 11:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi global virus corona (covid-19) menghempas aktivitas sejumlah industri, termasuk industri otomotif, baik di tingkat global maupun domestik. Namun, walaupun ada wabah Covid-19, pelaku industri otomotif harus tetap optimistis. Sejumlah strategi bisa dilakukan untuk membangkitkan ekonomi nasional.

“Optimisme harus dijaga, spirit itu jangan dilepaskan. Jangan pasrah dengan situasi seperti ini. Apalagi ini baru kuartal pertama, mudah-mudahan kuartal kedua membaik, lalu kuartal ketiga dan keempat bisa mengejar ketertinggalan. Kalau sekarang sudah patah semangat, nanti mau mengejarnya bagaimana?” ujar pengamat otomotif Bebin Djuana kepada SP di Jakarta, Minggu (22/3/2020).

Karena itulah, ia mengapresiasi adanya peluncuran produk baru LCGC kembar Astra Daihatsu Ayla dan Toyota Agya di tengah kerisauan corona.

“Ini salah satu usaha pabrikan untuk mengingatkan kepada masyarakat,” kata dia.

Menurut dia, dengan adanya pembatasan aktivitas masyarakat ke ruang publik untuk terhindar dari penularan virus corona, pabrikan perlu strategi. Diakui, kesempatan masyarakat mengunjungi showroom, nyaris tidak dimungkinkan, tetapi memperkenalkan produk, tidak harus melalui pertemuan di showroom.

Begitu juga saat peluncuran produk baru, tentu tidak perlu harus ada kerumunan orang banyak. Saat ini banyak cara dan terobosan bisa dilakukan salah satunya lewat media sosial.

“Pesan itu yang penting sampai ke masyarakat. Saya saja tidak tahu di mana peluncuran Ayla dan Agya, tetapi informasi tentang wajah barunya saya bisa peroleh,” kata dia.

Menurut dia, kebutuhan alat transportasi masih sangat besar. Makanya, kata dia, peluang industri otomotif masih besar.

Dijelaskan, ada kelompok konsumen yang memang sudah memiliki rencana matang untuk membeli kendaraan. Mereka sudah menyiapkan budget, tinggal datang ke showroom, pameran mobil, ataupun pasar mobil bekas. Namun, karena dibombardir berita hoaks tentang dahsyatnya corona, membuat mereka yang tadinya tidak khawatir, menjadi cemas dan menunda pembelian.

Ada juga sebagian konsumen yang mempertimbangkan membeli mobil jenis lain karena melihat dari sisi daya beli. Mereka mempertimbangkan akan adanya kenaikan harga mobil karena terhempasnya nilai Rupiah terhadap Dolar AS. Padahal, kata Bebin, kenaikan harga mobil tidak serta merta dipengaruhi nilai kurs.

Ia menambahkan, hal lain yang mempengaruhi penjualan otomotif saat ini juga karena adanya kebutuhan mendesak menjelang hari raya, termasuk adanya kebutuhan jelang tahun ajaran baru sekolah.

Menurut dia, kondisi slow down penjualan otomotif baru akan dirasakan dalam satu setengah bulan ke depan. Namun, hal itu bisa disikapi dengan strategi-strategi jitu pabrikan agar bisa mempertahankan pasar.

Berdasarkan data Gaikindo, sepanjang Januari hingga Desember 2019, total penjualan ritel otomotif nasional sebanyak 1,04 juta unit. Jumlah itu turun dari tahun 2018 yang sebanyak 1,15 juta unit.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita tidak menampik wabah Covid-19 akan sangat mempengaruhi industri nasional, termasuk otomotif. Tetapi ia meminta pelaku industri tetap selalu optimistis.

Menperin berharap penjualan otomotif nasional tahun ini bisa tumbuh 6% dari tahun lalu. “Mudah-mudahan tercapai,” ujar dia.

 



Sumber: Suara Pembaruan