Garuda Indonesia "Babak Belur" Dihajar Virus Corona, tetapi Belum "KO"

Garuda Indonesia
Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. ( Foto: BeritaSatu Photo / Mohammad Defrizal )
Lona Olavia / FMB Rabu, 25 Maret 2020 | 08:38 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi virus corona (Covid-19) memberikan dampak besar bagi kelangsungan bisnis maskapai termasuk Garuda Indonesia. Akibat situasi tersebut, Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Irfan Setiaputra menyebutkan, terjadi penurunan penumpang sebesar 30 persen untuk rute domestik, sedangkan yang internasional mencapai lebih dari 40 persen.

"(Corona) menggerus penjualan cukup besar apalagi umrah ke Arab Saudi yang mana jemaah umrah menjadi pasar besar bagi bisnis penerbangan Garuda tutup, begitupun dengan yang ke Tiongkok. Belum lagi nanti Papua yang tanggal 26 Maret ini juga rencananya melarang penerbangan ke sana. Jadi, kalau secara penumpang ada penurunan 30 persen untuk domestik. Kalau ke luar negeri sudah babak belur, bisa lebih dari 40 persen," katanya kepada Beritasatu.com, Selasa (24/3/2020) malam.

Namun, penerapan kerja dari rumah dan belajar dari rumah yang diimbau pemerintah, sebaliknya mendongkrak jumlah penumpang dengan rute tujuan Denpasar dan Singapura pada awal pekan lalu dan akhir pekan. "Waktu hari pertama kerja dari rumah dan belajar dari rumah Denpasar penuh. Weekend kemarin juga ada kenaikan cukup signifikan. Senin minggu lalu Denpasar dan Singapura pesawatnya penuh semua, dari biasanya cuma 70-80 persen penuhnya," imbuh Irfan.

Untuk menyeimbangkannya perusahaan harus melakukan upaya untuk mengatasi dampak virus corona salah satunya dengan mengurangi frekuensi penerbangan. Namun, tidak dengan menutup rute yang ada.

“Rute tetap (tidak ada pemangkasan), frekuensi saja yang dikurangi,” katanya.

Alhasil, Garuda Indonesia saat ini sudah grounded sekitar 20 pesawat. Di mana, Irfan mengakui jumlah tersebut sudah signifikan mempengaruhi kinerja perseroan. Meski begitu, sejauh ini, maskapai nasional tersebut belum menerapkan cuti tanpa gaji, pemotongan gaji, bahkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap para pegawainya. "Pemangkasan belum ada, hanya mereka yang berumur dan punya riwayat penyakit yang cukup berbahaya dengan virus corona yang kita minta kerja di rumah, termasuk para pilot," ucap dia.



Sumber: BeritaSatu.com