Layanan Streaming Hooq Ajukan Likuidasi

Layanan Streaming Hooq Ajukan Likuidasi
Aplikasi Hooq ( Foto: Beritasatu.com/Herman )
Farid Nurfaizi / FER Jumat, 27 Maret 2020 | 16:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Layanan video streaming, Hooq Digital Pte Ltd, mengajukan likuidasi secara sukarela (voluntary liquidation) kepada para kreditornya. Hal ini lantaran perusahaan tersebut tidak mampu memberikan tingkat pengembalian yang berkelanjutan dan tidak sanggup menutup biaya produksi konten yang meningkat.

Baca: Gen Z Siap Rombak Ulang Masa Depan dari Mobile

Hooq Digital merupakan perusahaan patungan (joint venture/JV) yang didirikan tahun 2015 antara Singapore Telecommunication Ltd (Singtel), Sony Pictures Television dan Warner Bros Entertainment. Di Asia, Hooq menjadi salah satu pemain video streaming yang berkompetisi dengan raksasa streaming global asal Amerika Serikat (AS), Netflix.

Adapun, Singtel menguasai kepemilikan saham tidak langsung dalam Hooq sebesar 76,5 persen. Sementara itu, Hooq menunjuk Lim Siew Soo dan Brendon Yeo Sau Jin sebagai gabungan dari beberapa likuidator untuk mengawasi operasi perusahaan yang masih berjalan sementara waktu.

"Likuidasi Hooq diperkirakan tidak berdampak material pada aset berwujud bersih dan pendapatan per saham Singtel,” tulis manajemen Singtel dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Singapura (SGX), Jumat (27/3/2020).

Baca: Hooq Jalin Kemitraan Strategis dengan XL Axiata

Sebagai informasi, Hooq tercatat menggandeng sejumlah operator telekomunikasi dan penyedia layanan internet dalam operasinya di sejumlah negara Asia. Jangkauan area layanan Hooq adalah Singapura, Indonesia, Thailand, Filipina, dan India.

Pada 2017, Hooq menjalin kerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dalam layanan yang di-bundle dengan Indihome. Sementara itu, hingga kini Grup Telkom belum juga belum membuka akses pemblokiran terhadap Netflix yang telah berlangsung sejak 2016.

Selain dengan Hooq, Telkom pernah menggandeng penyedia layanan video on demand (VoD) yang berkantor pusat di Kuala Lumpur, Iflix pada 2016. Telkom menilai Iflix mampu melewati sensor yang ketat di Malaysia dan hal ini dipandang cocok untuk pasar Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com