Minyak Ambles 6% ke Level Terendah 18 Tahun Karena Turunnya Permintaan

Minyak Ambles 6% ke Level Terendah 18 Tahun Karena Turunnya Permintaan
Ilustrasi pengeboran sumur minyak. ( Foto: Antara )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 31 Maret 2020 | 05:48 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak AS turun ke level terendah 18 tahun pada perdagangan Senin (30/3/2020) karena permintaan terus melemah di tengah Arab Saudi dan negara-negara OPEC+ bersiap meningkatkan produksi.

Di tengah upaya sejumlah negara melakukan lockdown akibat pandemi virus corona, permintaan minyak telah jatuh. Orang-orang tidak bepergian dan bisnis telah melambat. Hal ini mengurangi kebutuhan bahan bakar dan bensin.

Minyak mentah West Texas Intermediate di AS turun 6,6 persen atau US$ 1,42, menjadi US$ 20,09, level terendah sejak Februari 2002 seteah sempat merosot lebih dari 9 persen hingga US$ 19,27. Patukan internasional, minyak mentah Brent turun 8,7 persen menjadi US$ 22,76 per barel, atau terendah sejak 2002.

Baca juga: Pagi Ini, Minyak Brent di Pasar Asia Turun 5%

Melemahnya permintaan saat pemotongan produksi OPEC + berakhir. Mulai 1 April OPEC yang beranggotakan 14 negara dan mitranya dapat meningkatkan produksi minyak sebanyak yang mereka inginkan. Arab Saudi adalah salah satu negara yang akan meningkatkan produksinya.

"Dengan efek Covid-19 yang terus membebani permintaan global, kemungkinan kapasitas penyimpanan minyak mentah global akan meningkat pada kuartal II-2020, ini menciptakan mimpi buruk dan kemungkinan bahwa minyak mentah dapat menguji ambang US$ 10 per barel," kata analis Raymond James John Freeman dalam catatan untuk klien Senin (31/3/2020).

Bank of America kembali menurunkan perkiraan harga minyak pada Senin. "Secara triwulanan, kami memperkirakan akan melihat penurunan konsumsi minyak global paling tajam," kata analis Bank of America yang dipimpin Francisco Blanch.

Baca juga: Wall Street Rebound Didorong Saham Teknologi, Dow Naik 3%

Penurunan tajam harga minyak telah menyebabkan perusahaan energi memangkas rencana belanja modal. Perusahaan eksplorasi dan produksi yang berbasis di AS adalah salah satu yang paling terpukul. Ketika perusahaan ini berjuang mencapai titik impas dengan harga minyak yang tertekan, beberapa analis mengatakan gelombang konsolidasi dan kebangkrutan ada di depan mata.

Ketika permintaan melemah, OPEC awal bulan ini mengusulkan pemotongan tambahan 1,5 juta barel per hari. Tetapi sekutu OPEC Rusia menolak pemotongan itu, sehingga memulai perang harga. Arab akan meningkatkan produksi minyak menjadi 12,3 juta barel per hari pada April. Pada bulan Februari, negara ini menghasilkan sekitar 9,7 juta barel per hari.

Di tengah penurunan harga yang sedang berlangsung, AS telah mencoba melakukan intervensi. Pada Senin Presiden Trump berbicara dengan pemimpin Rusia Vladimir Putin. Keduanya sepakat mengadakan pembicaraan di tingkat menteri, menurut laporan dari Reuters.

Senator Ted Cruz mengatakan kepada CNBC pada Senin bahwa ia dan delapan senator lainnya bertemu dengan duta besar Saudi membahas perang harga yang sedang berlangsung. Para senator memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap Arab Saudi jika perang ekonomi berlanjut.

Pekan lalu Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa Sekretaris Mike Pompeo telah berbicara dengan Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.



Sumber: BeritaSatu.com