Berkat Corona, Harga Emas Menguat Secara Kuartalan

Berkat Corona, Harga Emas Menguat Secara Kuartalan
Ilustrasi emas. ( Foto: Antara / Muhammad Adimaja )
/ WBP Rabu, 1 April 2020 | 06:34 WIB

Chicago, Beritasatu.com- Harga emas jatuh pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu (1/4/2020) pagi WIB menyusul penguatan dolar AS. Namun emas mencatat kenaikan bulanan dan kuartalan keenam berturut-turut di tengah kekhawatiran kerusakan ekonomi akibat pandemi virus corona.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Juni anjlok US$ 46,6 atau 2,84 persen menjadi US$ 1.596,6 per ounce. Emas berjangka juga jatuh US$ 10,9 atau 0,66 persen menjadi US$ 1.643,2 per ounce sehari sebelumnya.

"Suasana di pasar tampaknya membaik ketika investor menikmati data manufaktur positif dari Tiongkok. Namun, rasa hati-hati masih melekat di tengah selera yang meningkat terhadap dolar," kata analis FXTM Lukman Otunuga.

Dolar menguat terhadap mata uang utamanya, mengakibatkan emas lebih mahal untuk pemegang mata uang lainnya.

Baca juga: Emas Antam Turun ke Rp 924.000 Per Gram

Investor bergembira saat data pabrik Tiongkok menguat sehingga memberikan harapan kebangkitan ekonomi meski banyak sejumah negara di dunia lockdown untuk melawan virus.

Untuk kuartal pertama ini, emas telah naik 4,6 persen didorong ketegangan AS-Iran pada Januari lalu dan pandemi global virus corona. "Sentimen global tetap goyah meskipun bank sentral dan pemerintah berperang melawan Covid-19," kata Otunuga.

Dia menambahkan kekhawatiran seputar resesi global akan membuat investor mencari emas, terutama jika retakan mulai terlihat di ekonomi terbesar di dunia.

Baca juga: Dow Melemah, Corona Picu Penurunan Kuartalan Terburuk dalam 3 Dekade

Beberapa langkah kebijakan telah diterapkan untuk memerangi virus corona, yang telah menginfeksi 800.000 orang di seluruh dunia dan menewaskan 39.000 orang.

Sementara itu logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Mei naik 2,4 sen atau 0,17 persen, menjadi ditutup pada 14,156 dolar AS per ounce. Platinum untuk pengiriman Juli naik 6,1 dolar AS atau 0,84 persen, menjadi menetap pada 729,9 dolar AS per ounce.

 



Sumber: Xinhua, Antara