Trump Sebut Rusia-Saudi Capai Kesepakatan, Harga Minyak Meroket 24%

Trump Sebut Rusia-Saudi Capai Kesepakatan, Harga Minyak Meroket 24%
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. ( Foto: AFP )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 3 April 2020 | 05:44 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak meroket pada perdagangan Kamis (3/4/2020) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa Arab Saudi dan Rusia mencapai kesepatakan akan mengurangi produksi sekaligus mengakhiri perang harga yang telah berkontribusi terhadap penurunan minyak mentah.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate melonjak 24,67 persen menjadi US$ 25,32 per barel, kenaikan persentase satu hari terbesar sepanjang sejarah. Sepanjang 2020, WTI telah turun 59 persen. Benchmark internasional, minyak mentah Brent melonjak 17,8 persen atau US$ 4,40, menjadi US$ 29,14 per barel.

Trump mengatakan kepada CNBC Kamis bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Putra Mahkota Arab Saudi. Trump mengharapkan mereka akan mengumumkan pengurangan produksi minyak sekitar 10 juta barel hingga 15 juta barel per hari.

Baca juga: Wall Street Menguat Dipicu Harapan Meredanya Perang Harga Minyak

Presiden dalam akun twitternya mencuit bahwa pengurangan produksi akan bagus untuk industri minyak & gas!" Tweet itu sebelum pertemuan dengan para eksekutif industri energi yang dijadwalkan pada Jumat.

"Ini akan sangat disambut oleh industri dalam jangka pendek," kata Presiden Fed Dallas Robert Kaplan.

Produksi minyak biasanya dibahas dalam barel per hari. Tetapi Trump tidak mengacu pada kerangka waktu pemotongan. Selain itu, tidak jelas bagaimana pemotongan akan didistribusikan di seluruh negara penghasil minyak.

Arab Saudi pada Kamis, menyerukan pertemuan mendesak OPEC dan anggotanya. "Hari ini, Kerajaan menyerukan pertemuan darurat bagi kelompok OPEC+ dan negara-negara lain, dengan tujuan mencapai kesepakatan yang adil untuk memulihkan keseimbangan yang diinginkan pasar minyak," kata Saudi Press Agency.

Meskipun minyak naik hampir 25 persen, para pedagang mempertanyakan apakah potongan besar yang disarankan Trump masuk akal, terutama jika AS tidak berpartisipasi. Pemerintaahn Trump Administrasi tidak meminta produsen dalam negeri AS memotong produksinya, menurut laporan Reuters.

Negara-negara OPEC yang dipimpin Arab Saudi mengusulkan bulan lalu pengurangan produksi 1,5 juta barel per hari karena permintaan berkurang. Namun, sekutu OPEC Rusia menolak pemotongan itu, sehingga memicu perang harga antara dua produsen minyak dunia. Pemotongan produksi sebelumnya diberlakukan berakhir pada 31 Maret. Pada hari Rabu, Arab Saudi meningkatkan produksinya menjadi lebih dari 12 miliar barel per hari.

Guncangan dari sisi permintaan maupun penawaran telah membuat harga minyak jatuh. Pada 6 Maret, minyak mentah AS diperdagangkan di atas US$ 41 per barel. Sejak itu, minyak mentah anjlok sekitar setengah dari nilainya.

Minyak mentah juga mendapat dorongan setelah Bloomberg News melaporkan bahwa Tiongkok akan mulai membeli minyak untuk cadangan daruratnya.



Sumber: CNBC