Harga Minyak Diproyeksi Turun ke US$ 10 Per Barel di Kuartal II

Harga Minyak Diproyeksi Turun ke US$ 10 Per Barel di Kuartal II
Ilustrasi minyak. ( Foto: Beritasatu.com/Muhammad Reza )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Sabtu, 4 April 2020 | 05:45 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak pada perdagangan Kamis menguat lebih 20 persen menyusul laporan menguatnya kesepakatan mengurangi produksi sebesar 10 juta barel per hari. Namun analis memperkirakan minyak mentah Brent masih akan merosot hingga US$ 10 per barel pada kuartal II-2020.

Acuan minyak mentah dunia Brent diperdagangkan naik 9,92 persen menjadi US$ 32,91 pada Jumat sore (3/4/2020) di Asia, sementara patokan AS miyak West Texas Intermediate (WTI) naik 4,82 persen menjadi US$ 26,54.

Baca juga: Trump Sebut Rusia-Saudi Capai Kesepakatan, Harga Minyak Meroket 24%

"Kami memproyeksikan bahwa Brent akan turun menjadi sekitar US$ 10 per barel pada bulan April dan kemungkinan akan tetap pada tingkat itu pada kuartal kedua 2020," kata Wakil Presiden konsultasi energi, IHS Markit, Victor Shum.

"Ada sedikit peluang kesepakatan OPEC+ yang akan menyelamatkan pasar minyak mentah dari serangan Covid-19," katanya kepada CNBC pada Jumat. "Saya pikir pembicaraan tentang pemotongan besar mungkin terlalu sedikit, karena sudah terlambat."

Minyak berjangka telah turun lebih 50 persen sejak awal tahun 2020 di tengah perang harga Saudi-Rusia dan melemahnya permintaan karena pandemi virus corona.

Baca juga: Bursa Asia Menguat karena Rekor Kenaikan Harga Minyak

Presiden AS Donald Trump berusaha menjadi penengah antara Arab Saudi dan Rusia. Dia mengharapkan ada pengurangan 10 juta barel per hari hingga 15 juta barel per hari. Riyadh menyerukan pertemuan darurat OPEC dan sekutunya, yang didukung oleh Irak, menurut laporan Reuters.

Namun, kata Shum, mengingat kedua pihak menghasilkan sekitar 10 juta barel per hari hingga 11 juta barel per hari, ia menganggap "sangat tidak mungkin Arab Saudi akan menyetujui pengurangan besar-besaran tersebut.

“Apakah kita berbicara meminta Arab Saudi dan Rusia untuk memotong 50 persen atau lebih dari produksi mereka? Itu sepertinya luar biasa,” katanya.

"Dengan tidak ada tanda-tanda nyata bahwa Arab Saudi dan Rusia sepakat mengesampingkan perbedaan mereka, itu akan menjadi sulit," tambahnya.

Trump mengatakan bahwa ia belum menawarkan untuk menurunkan produksi minyak Amerika.



Sumber: CNBC