Harga Emas Menguat karena Suramnya Data Pekerjaan AS

Harga Emas Menguat karena Suramnya Data Pekerjaan AS
Ilustrasi emas. ( Foto: Antara / Ari Bowo Sucipto )
/ WBP Sabtu, 4 April 2020 | 05:52 WIB

Chicago, Beritasatu.com - Harga emas berjangka melanjutkan penguatan pada akhir perdagangan Jumat atau Sabtu pagi WIB (4/4//2020), setelah suramnya data penggajian (payrolls) non-pertanian Amerika Serikat (AS). Hal ini memperkuat dampak virus corona telah menekan ekonomi.

Kontrak harga emas paling aktif pengiriman Juni di bursa Comex naik US$ 8,00 atau 0,49 persen, menjadi US$ 1.645,7 per ounce. Emas berjangka melonjak US$ 46,3 atau 2,91 persen menjadi US$ 637,7 per ounce sehari sebelumnya.

Baca juga: Harga Emas Diuntungkan Rekor Klaim Pengangguran AS

Departemen Tenaga Kerja menyatakan ekonomi AS memangkas 701.000 pekerjaan selama Maret, mengakhiri pertumbuhan lapangan pekerjaan bersejarah 113 bulan berturut-turut, ketika langkah-langkah mengendalikan penyebaran corona merugikan bisnis dan pabrik. Hal ini mengkonfirmasi bahwa resesi sedang berlangsung.

Analis mencatat bahwa penurunan angka pekerjaan pada Maret telah mendorong permintaan safe haven (emas). "Emas terus berada dalam posisi menunggu dan melihat seberapa buruk ekonomi global terdampak dan berapa lama depresi akan berlangsung," kata analis pasar Oanda, Edward Moya.

Indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap mata uang utama saingannya, naik 0,54 atau 0,54 persen, menjadi 100,72 pada pukul 17.50 GMT. 

"Sebagian besar pedagang mengharapkan emas menjadi lebih tinggi setelah data daftar gaji," kata Moya.

Baca juga: Corona Meluas, Dow Jones Ambles 300 Poin di Akhir Pekan

Emas juga mendapatkan dukungan ketika semalam bursa AS tergerus. Dow Jones Industrial Average merosot 360,91 poin, atau 1,7 persen menjadi 21.052,53. S&P 500 turun 1,5 persen menjadi 2.488,65. Nasdaq Composite tertekan 1,5 persen menjadi 7.373,08

Logam mulia lainnya, perak pengiriman Mei turun 16 sen atau 1,09 persen, menjadi US$ 14,494 per ons. Platinum pengiriman Juli turun US$ 11,9 atau 1,63 persen, menjadi US$ 718,1 per ounce.



Sumber: Xinhua, Antara