Investor Ragukan Penurunan Produksi, Harga Minyak Tertekan

Investor Ragukan Penurunan Produksi, Harga Minyak Tertekan
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. ( Foto: AFP )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 8 April 2020 | 05:47 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak dunai merosot pada perdagangan Selasa (7/4/2020) di tengah membengkaknya pasokan dan melemahnya permintaan karena pandemi virus corona. Sementara investor juga berhati-hati atas ekspektasi produsen terbesar dunia segera menyetujui pengurangan produksi.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka turun US$ 2,45 atau 9,4 persen menjadi US$ 23,63 per barel, menjelang laporan persediaan minyak mentah mingguan AS. Minyak mentah berjangka Brent ditutup mencapai US$ 31,87 per barel, atau kehilangan US$ 1,18 (3,6 persen).

Data American Petroleum Institute, menunjukkan stok minyak mentah melonjak 11,9 juta barel pekan lalu menjadi 473,8 juta barel, dibandingkan ekspektasi analis 9,3 juta barel.

"Saya tidak melihat skenario dalam bentuk apa pun yang bisa menjadi situasi bullish (menguat)," kata Director of Energy Future Mizuho, Bob Yawger.

Pemasok utama minyak mentah global, yakni Arab Saudi dan Rusia, berencana bertemu pada Kamis (9/4/2020) untuk membahas pengurangan produksi, tetapi sejumlah menteri energi mengatakan bahwa pemotongan bisa dilakukan jika Amerika Serikat ikut bergabung memangkas produksi minyaknya. Demikian sumber yang mengetahui hal itu mengatakan kepada Reuters.

"Pasar menginginkan beberapa kepastian lebih lanjut apakah Rusia dan Saudi akan mencapai kesepakatan membatasi pasokan," kata Wakil Presiden Riset Market Tradition Energy Gene McGillian, di Stamford, Connecticut.

Kesepakatan akhir seberapa banyak Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, yang dikenal OPEC+, akan memotong produksi akan tergantung pada volume yang ingin dipotong oleh para produsen seperti Amerika Serikat, Kanada dan Brasil. Demikian diungkapkan sumber OPEC, Selasa.

OPEC+ telah membatasi produksi dalam beberapa tahun terakhir bahkan ketika AS meningkatkan produksinya untuk menjadikan negara itu produsen minyak mentah terbesar di dunia.

Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan OPEC tidak memintanya memotong produksi AS untuk menopang harga. Dia juga mengatakan produksi AS. sudah menurun dalam menanggapi jatuhnya harga.

Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mengatakan, produksi minyak mentah AS diperkirakan turun 470.000 barel per hari (bph) dan permintaan akan turun sekitar 1,3 juta bph pada 2020. "Konsumsi bensin AS mencapai level terendah dalam 20 tahun pada kuartal kedua 2020," katanya.



Sumber: Reuters