Realisasi Restrukturisasi Per 13 April Capai 328.329 Debitur

Realisasi Restrukturisasi Per 13 April Capai 328.329 Debitur
Infobanktalknews Media Discussion dengan tema “Pasca-Putusan MK Tentang Fidusia: Leasing Masih Bisa Tarik Kendaraan Debitur Macet”, di Jakarta, Senin (10/2/2020). (Foto: Beritasatu Photo / Lona Olavia)
Lona Olavia / EHD Rabu, 15 April 2020 | 02:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan jumlah debitur yang telah direstrukturisasi karena terdampak Covid-19 per 13 April 2020 mencapai 328.329 debitur. Di mana, jumlah debitur yang disetujui untuk dilakukan restrukturisasi oleh perbankan sebanyak 262.966 debitur.

Sementara, jumlah debitur yang disetujui untuk dilakukan restrukturisasi oleh perusahaan pembiayaan sebanyak 65.363 debitur dan masih dalam proses permohonan 150.345 debitur.

"Debitur terdampak Covid-19 harus mengajukan permohonan restrukturisasi kepada bank perusahaan maupun pembiayaan," kata Juru Bicara OJK Sekar Putih Djarot dalam siaran pers, Selasa (14/4/2020).

Sekar menjelaskan, persetujuan permohonan, skema dan jangka waktu dari restrukturisasi akan ditentukan berdasarkan penilaian, asesmen bank maupun perusahaan pembiayaan terhadap kemampuan membayar debitur dan juga kesepakatan kedua belah pihak.

OJK sebelumnya sudah mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional Sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Coronavirus Disease 2019 (POJK Stimulus Dampak Covid-19).

Namun, keringanan cicilan pembayaran kredit atau leasing menurutnya tidak otomatis karena debitur atau nasabah wajib mengajukan permohonan kepada bank atau leasing.

Lalu bank atau leasing wajib melakukan asesmen dalam rangka memberikan keringanan kepada nasabah. Sekar menegaskan, keringanan cicilan pembayaran kredit dapat diberikan dalam jangka waktu maksimum sampai dengan 1 tahun.

Adapun bentuk keringanan antara lain penurunan suku bunga, perpanjangan jangka waktu, pengurangan tunggakan pokok, pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit, konversi kredit menjadi penyertaan modal sementara dan atau lainnya sesuai kesepakatan baru.



Sumber: BeritaSatu.com