Jamur Tiram Tak Terpengaruh Covid-19, Petani Untung

Jamur Tiram Tak Terpengaruh Covid-19, Petani Untung
Usman Aziz, petani jamur tiram asal Huta Negeri Lawan I, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. ( Foto: Jamur )
Bernadus Wijayaka / BW Minggu, 3 Mei 2020 | 20:10 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 tak berpengaruh banyak terhadap budidaya jamur tiram. Buktinya, petani jamur tiram dari Sumatera Utara mengalami peningkatan order, khususnya saat memasuki bulan Ramadan.

Hal ini dialami petani milenial jamur tiram asal Huta Negeri Lawan I, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Usman Aziz.
Usman Aziz (24) adalah mahasiswa semester 8 Program Studi Agribisnis di Universitas Simalungun. Usman juga salah satu pelopor Duta Petani Milenial tingkat nasional yang telah dikukuhkan Kepala Badan PPSDMP Kementan bersama 66 Duta Petani Milenial (DPM) dan Duta Petani Andalan (DPA) lainnya.

Usaha budidaya jamur tiram didirikan Usman atas inisiatif sendiri. Ia melihat peluang usaha budidaya jamur tiram yang ternyata sangat menjanjikan di Pasar Sentral Kabupaten Simalungun maupun pasar di luar Simalungun.

Usman mengatakan, pada saat bisnis lain mengalami kolaps bahkan cenderung gulung tikar akibat resesi ekonomi, bisnis jamur tiram yang dia geluti justru banjir pesanan.

Menurutnya, harga jual jamur cenderung stabil, saat ini sekitar Rp 20.000 per kilogram. Dan usaha jamurnya dapat untung hingga Rp 73,5 juta per bulan. Tiap hari, ia bisa menjual minimal 50 kg jamur tiram atau sekitar 1.200 baglog jamur per hari. Selain itu, Usman juga menjual bibit jamur tiram.

“Dampak pandemi Covid-19 ini tidak ada pengaruhnya pada usaha saya. Justru permintaan jamur tiram meningkat,” kata Usman, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (3/5/2020).

“Selain pasar sentral, kami juga memasok jamur tiram ke beberapa kafe di sekitar Simalungun. Untuk pemenuhan kebutuhan pasar, kami masih bergantung pada permintaan pasar. Masih belum merambah ke pasar modern seperti supermarket. Ini akan menjadi target kami ke depannya,” tambahnya.

Dalam mengelola usahanya, Usman mempekerjakan empat orang pemuda dan enam orang ibu. Mereka berasal dari sekitar Simalungun. Mereka terus berupaya membantu menyediakan kebutuhan pangan berkelanjutan di tengah menjangkitnya wabah Covid-19 dan situasi bulan puasa saat ini.

Usman berharap, upayanya menjadi Duta Petani Milenial dengan fokus mengembangkan usaha budidaya jamur tiram, dapat mempercepat regenerasi petani. “Dengan meningkatkan peran generasi muda pertanian, dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian agar lebih prospektif dan berpeluang ekspor,” katanya.

Menteri Pertanian (Mentan) SyahruI Yasin Limpo pernah mengatakan keberadaan Duta Petani Milenial merupakan bukti kuat bahwa sektor pertanian adalah sektor penting dalam menghadapi berbagai ancaman krisis, termasuk pandemi Covid-19.

“Para Duta Petani Milenial mampu bergerak dengan dinamis dan bisa membantu petani lain untuk keluar dari ancaman krisis. Hal ini yang membuat keberadaan mereka sangat dibutuhkan. Untuk itu kita terus mendorong hadirnya banyak petani milenial,” paparnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSMDP) Kementan, Dedi Nursyamsi juga mengatakan perlu pelopor pertanian yang diharapkan membuat jejaring usaha pertanian untuk menarik minat generasi milenial menekuni usaha di bidang pertanian. Selain itu juga sebagai penghela peningkatan produktivitas tenaga kerja pertanian serta produktivitas lahan dan komoditas.

“Jejaring usaha dalam dunia pertanian sangat dibutuhkan. Dan hal ini bisa dikembangkan oleh petani-petani milenial. Kita berharap petani milenial bisa mengembangkan jejaring usaha dan startup sektor pertanian. Banyak sekali yang bisa digarap dari sektor pertanian ini,” tuturnya.

Dedi Nusyamsi juga memberikan apresiasinya terhadap kejelian Usman Aziz memaksimal budidaya jamur tiram.



Sumber: BeritaSatu.com