Indeks Manufaktur Rendah, Jokowi Minta Stimulus Diberikan

Indeks Manufaktur Rendah, Jokowi Minta Stimulus Diberikan
Joko Widodo. (Foto: Biro Pers Sekretariat Presiden)
Lennny Tristia Tambun / Novy Lumanauw / MPA Rabu, 6 Mei 2020 | 13:18 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan pandemi virus corona atau Covid-19 yang melanda banyak negara, telah membuat laju pertumbuhan ekonomi turun cukup tajam. Tidak hanya dari sisi demand dan sisi pasokan, tetapi juga dari sisi produksi.

"Covid-19 telah memukul perekonomian banyak negara termasuk negara kita, dan memukulnya pada dua sisi sekaligus, yakni sisi demand dan sisi supply, serta sisi produksi," kata Jokowi saat membuka rapat terbatas tentang tentang rencana pagu indikatif RAPBN tahun 2021 secara virtual dari Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (6/5/2020).

Dari sisi pasokan, lanjut Jokowi, indeks manufaktur Indonsia yang tergambar dari Purchasing Managers Index (PMI) pada April 2020 mengalami kontraksi terdalam dibanding negara lain di ASEAN.

Indonesia di level 27,5 lebih rendah dibanding Korsel 41,6, Malaysia 31,3, Vietnam 32,7 dan Filipina 31,6.

"Ini hati-hati mengenai Indeks Manufaktur Indonesia agar dicarikan solusi dan jalan agar kontraksi ini bisa diperbaiki. Untuk itu saya minta Menteri Koordinator bidang ekonomi, perhatikan angka-angka yang saya sampaikan secara detail, mana saja sektor dan subsektor yang alami kontraksi terdalam, diberikan stimulusnya," jelas Jokowi.

Sehingga, tambahnya, program stimulus ekonomi yang akan dibuat nanti bisa tepat sasaran. Ia juga meminta Menko Perekonomian untuk membuat skenario pemulihan di setiap sektor dan subsektor.

Dijelaskannya ada bebarapa subsektor yang berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di Kuartal I tahun 2020. Seperti tanaman pangan minus 0,31 persen.

"Hati-hati dengan angka ini. Sekali lagi hati-hati dengan angka-angka ini. Apalagi sudah saya sampaikan FAO peringatkan krisis pangan. Artinya sektor petanian harus digenjot agar berproduksi, dengan protokol kesehatan yang baik," terang Jokowi.

Subsektor lainnya yang berkontribusi negatif adalah angkutan udara minus 0,08 persen, pertambangan minyak gas panas bumi minus 0,08 persen, industri barang logam komputer minus 0,07, penyediaan akomodasi minus 0,03, industri mesin dan perlengkapan minus 0,03.

Begitu juga dengan angka dari sisi permintaan atau demand. Angka laju inflasi pada April 2020 tercatat 0,08 persen. "Sangat rendah bila dibandingkan pada periode bulan Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya," papar Jokowi.

Sementara dari sisi pengeluaran, Kepala Negara mencatat konsumsi rumah tangga sebesar 2,84 persen dan pengeluaran pemerintah 3,74 persen menjadi lokomotif pertumbuhan.

Namun, mantan Gubernur DKI Jakarta ini meminta jajarannya melihat konsumsi untuk Lembaga Nirlaba yang menangani Rumah Tangga (LNPRT) yang mengalami kontraksi minus 4,91 persen.

"Ini benar-benar dilihat secara detail LNPRT ini. Karena itu, penyaluran bansos dari pemerintah pusat, pemda, atau dana desa, dan program padat karya tunai dalam minggu-minggu ini harus dipastikan sudah jalan di lapangan. Bansosnya sudah diterima masyarakat, program padat karya juga sudah jalan di lapangan," tegasnya.



Sumber: BeritaSatu.com