Realisasi Asuransi Usaha Tani Padi Capai 333.000 Hektare

Realisasi Asuransi Usaha Tani Padi Capai 333.000 Hektare
ilustrasi petani di sawah. (Foto: istimewa)
Herman / FER Selasa, 26 Mei 2020 | 17:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Untuk membantu para petani menghadapi ancaman gagal panen, pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kemtan) telah menghadirkan solusi berupa program Asuransi Usaha Tani Padi atau AUTP.

Baca Juga: Kemtan Integrasikan Aplikasi Peta Ekspor

Program tersebut hingga kini semakin diminati oleh petani. Realisasi AUTP pada tahun ini sudah mencapai 333.505,91 hektare (ha), atau 41,69 persen dari target 1 juta ha di 2020.

Salah satu daerah yang tinggi realisasi AUTP adalah Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, sekitar 69.933 ha. Daerah lain yang realisasi AUTP-nya tinggi di Jawa Timur adalah Kabupaten Jombang dengan 35.173, 94 Ha, dan Bojonegoro dengan 32.054, 05 Ha.

Menteri Pertanian (Mentan), Syahrul Yasin Limpo menyampaikan, pertanian adalah sektor yang memiliki banyak jenis usaha, di antaranya usaha tani padi. Namun, sektor pertanian juga dihadapkan pada sejumlah masalah seperti gagal panen akibat perubahan iklim, banjir, serangan hama dan penyakit/organisme penggangu tumbuhan (OPT).

Baca Juga: Mentan Sebut Dua Kendala Pembukaan Sawah Baru

"Untuk menghindarkan petani dari keadaan tersebut, pemerintah memberikan solusi berupa program Asuransi Usaha Tani Padi atau AUTP. Program ini diharapkan dapat memberikan perlindungan terhadap risiko ketidakpastian dengan menjamin petani mendapatkan modal kerja untuk berusaha tani dari klaim asuransi,” kata Syahrul Yasin Limpo dalam keterangan resminya, Selasa (26/5/2020).

Untuk mendapatkan program ini, petani bisa bergabung dalam sebuah kelompok tani. Setelah memahami manfaat jaminan kerugian yang didapat dari program asuransi pertanian, petani bisa segera mendaftarkan diri. Waktu pendaftaran biasanya paling lambat berlangsung 30 hari sebelum musim tanam dimulai. Untuk mendaftarkan diri, petani juga akan mendapat pendampingan khusus dari petugas UPTD Kecamatan serta penyuluh pertanian lapangan (PPL).

Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kemtan, Sarwo Edhy juga menegaskan jika AUTP menjamin petani mendapatkan perlindungan. Pelaksanaan asuransi pertanian ini bekerja sama dengan PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo).

Baca Juga: Pandemi Covid-19 Tak Surutkan Petani Tanam Padi

AUTP diselenggarakan dengan tujuan untuk memberikan perlindungan kepada petani jika terjadi gagal panen sebagai akibat risiko banjir, kekeringan, dan serangan organisme pengganggu tumbuhan. Sasaran penyelenggaraan AUTP adalah terlindunginya petani dengan memperoleh ganti rugi jika mengalami gagal panen.

Premi dari program AUTP sebesar Rp 180.000. Namun petani hanya diwajibkan membayar Rp 36.000 per hektar per musim tanam, sementara sisanya atau sebesar Rp 144.000 ditanggung oleh pemerintah. Bila terjadi gagal panen akibat hama, kekeringan, dan banjir, maka petani bisa mendapatkan ganti rugi sebesar Rp 6 juta per ha.

"Berdasarkan ketentuan dalam polis, klaim akan diperoleh jika intensitas kerusakan mencapai 75 persen berdasarkan luas petak alami tanaman padi. Pembayaran klaim untuk luas lahan satu hektar sebesar enam juta rupiah,” terangnya.

Baca Juga: Sumenep Percepat Tanam Jelang Musim Kemarau

Sementara itu untuk realisasi Asuransi Usaha Ternak Sapi atau Kerbau (AUTS/K) sudah mencapai total 21.365 ekor atau 17,80 persen dari target 120.000 ekor. Realisasi AUTS/K sampai bulan Mei 2020 ditargetkan sebesar 32.194 ekor.

AUTS/K menawarkan ganti rugi sebesar Rp 10 juta per ekor jika mati dan Rp 7 juta per ekor jika hilang. Premi yang ditawarkan sebesar Rp 200.000/ekor/tahun, di mana Rp 160.000 ditanggung pemerintah dan Rp 40.000 ditanggung peternak.



Sumber: BeritaSatu.com