Harga Minyak Bervariasi karena Ketegangan AS-Tiongkok

Harga Minyak Bervariasi karena Ketegangan AS-Tiongkok
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 2 Juni 2020 | 05:49 WIB

New York, Beritasatu.com - Harga minyak berjangka cenderung stabil pada Senin (1/6/2020) karena meningkatnya ketegangan Amerika Serikat (AS)- Tiongkok. Namun harga mendapat dukungan dari laporan bahwa OPEC dan Rusia hampir mencapai kesepakatan untuk memperpanjang pemangkasan produksi.

Minyak mentah patokan AS WTI turun 5 sen, atau 0,14 persen US$ $ 35,44 per barel. Sementara Brent naik 48 sen, atau 1,3 persen menjadi US$ 38,32 per barel.

Investor lebih berhati-hati setelah Tiongkok memperingatkan untuk membalas atas rencana AS yang akan mencabut hak istimewa Hong Kong.

Tiongkok telah meminta perusahaan milik negara untuk menghentikan pembelian kedelai dan daging babi dari AS. Demikian diungkapkan dua orang yang mengetahui masalah tersebut.

"Meningkatnya ketegangan dua negara menimbulkan risiko pada kenaikan harga minyak baru-baru ini," kata Kepala Riset Komoditas BNP Paribas, Harry Tchilinguirian.

Baca juga: Bursa AS Menguat Meski Unjuk Rasa Meluas dan Perang Dagang

Namun kekhawatiran pemulihan ekonomi dan permintaan bahan bakar juga menekan masa depan minyak. Data manufaktur pada Senin menunjukkan bahwa pabrik-pabrik Asia dan Eropa sedang berjuang karena lockdown telah mengurangi permintaan.

Harga mendapat dukungan setelah berita Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+, kemungkinan akan memperpanjangan pemotongan produksi. Hal itu sedang dibahas dalam satu hingga dua bulan ke depan.

Aljazair, yang memegang jabatan presiden OPEC kali ini telah mengusulkan agar OPEC+ mengadakan pertemuan pada 4 Juni maju dari yang direncanakan sebelumnya 9-10 Juni.

Sementara cadangan di Cushing, Oklahoma, turun menjadi 54,3 juta barel dalam minggu yang berakhir 29 Mei.



Sumber: CNBC