Penyimpanan Minyak Terapung Capai Rekor Tertinggi dalam Sejarah

Penyimpanan Minyak Terapung Capai Rekor Tertinggi dalam Sejarah
Ilustrasi eksplorasi minyak lepas pantai. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 5 Juni 2020 | 06:20 WIB

London, Beritasatu.com - Laporan Lloyd’s List, perusahaan asal London yang memfokuskan data maritim menyebutkan saat ini penyimpanan minyak terapung mencapai rekor tertinggi dalam sejarah karena ada 275 juta barel minyak di 239 kapal tanker yang berlabuh selama lebih 20 hari.

"Besarnya penyimpanan minyak akibat tingginya produksi dan penurunan konsumsi," kata Market Editor Lloyd’s List, Michelle Wiese dalam keterangannya Jumat (5/4/2020).

Baca juga: Harga Minyak Naik, Pasar Tunggu Kejelasan Pengurangan Produksi

Menurut dia, penyimpanan minyak terapung melonjak ke level puncak baru, walau permintaan meningkat kembali dengan muatan minyak mentah dari Venezuela dan Amerika Serikat (AS) yang tidak terjual mengapung di Afrika Selatan dan Singapura. Lloyd’s List Intelligence melacak sekitar 278,2 juta barel sedang berada di atas 239 kapal tanker yang telah berlabuh selama 20 hari atau lebih. Angka tersebut berkurang menjadi 207,7 juta barel setelah tonase yang dikuasai Iran dihapus karena tidak dapat diperdagangkan, dan dikenakan sanksi sepihak oleh AS. Angka tersebut mencakup tanker jenis Long Range (LR) dan Suezmax, serta kapal Very Large Crude Carrier (VLCC).

Lebih lanjut dijelaskan, sekitar 32,6 juta barel adalah produk olahan dalam penyimpanan seperti bensin, diesel dan bahan bakar jet. Sementara sisanya minyak mentah, kondensat atau bahan bakar. "Data menunjukkan sekitar 10 persen dari armada VLCC di pasar global diperkirakan terikat dalam penyimpanan terapung, bersamaan dengan 11 persen dari seluruh tanker Suezmax, dan 9,5 persen dari tanker Aframax," kata laporan itu.

Sementara volume penyimpanan terapung yang mencapai rekor baru menghindari tekanan pendapatan dan permintaan 2.800 kapal tanker pengangkut 3,2 miliar ton minyak mentah per tahun. Ini sangat berbeda dengan dampak virus corona (Covid-19) yang telah melumpuhkan sektor kapal kontainer, pengangkutan mobil, pelayaran shortsea, dan sektor dry bulk dalam tiga bulan terakhir ini.

Lloyd List juga menyebutkan meskipun harga minyak mentah telah melambung lebih cepat dari yang diperkirakan, karena sejumlah negara mengurangi lockdown, tetapi belum meredakan gangguan pasar sehingga penimbunan minyak di darat meningkat dan pembongkaran muatan tertunda. Dampaknya, volume yang harus ditampung di kapal tanker minyak naik.

Laporan itu menyebutkan tersendatnya logistik terbesar berada di wilayah Asia, dimana 51 juta barel dilacak dalam kapal tanker minyak yang berlabuh di luar perairan Singapura dan Malaysia. Selain itu, berdasarkan data Lloyd’s List Intelligence, sekitar 19,2 juta barel berada di lepas pantai Afrika Barat. Dari jumlah tersebut, 26 dari 34 kapal tanker yang terlacak sedang mengangkut produk olahan minyak.

Salah satu daerah yang paling meningkat pesat dalam penyimpanan minyak terapung saat ini berada di Teluk Saldanha di Amerika Selatan, yang sebentar lagi akan menyusul penundaan bongkar muatan di pelabuhan di sepanjang pantai Pasifik Amerika Utara selama beberapa minggu terakhir. Berdasarkan pelacakan kapal, setidaknya lima tanker bermuatan minyak dari Amerika Selatan mengapung di lepas pantai Afrika Selatan. Selain itu, masih ada kapal lainnya berasal dari Venezuela dan negara-negara Afrika Barat seperti Nigeria, Kongo.

Data penyimpanan terapung juga menyoroti kesulitan Venezuela dalam menjual minyak mentah setelah sanksi AS terhadap divisi pemasaran pedagang minyak raksasa Rosneft asal Rusia. Padahal pedagang minyak Rusia ini biasanya adalah perantara dalam penjualan minyak Venezuela.

"Enam dari empat belas kapal tanker yang dilacak memuat minyak mentah dari Venezuela menuju Asia telah mengapung selama 7 minggu di lepas pantai Singapura dan Malaysia. Sedangkan dua lainnya sedang berlabuh di Teluk Saldanha, dan sampai saat ini belum ada muatan kargo yang di bongkar," kata laporan itu.



Sumber: BeritaSatu.com